Pages

Subscribe:

Kamis, 03 Oktober 2013

Definitions of Research from Authors



 Definitions of Research from Authors


Written by Ari Julianto

Research comes from the Middle French word rechercher, meaning “to seek out.” It means writing a research paper requires us to seek out information about a subject, take a stand on it, and back it up with the opinions, ideas, and views of others. What results is a printed paper variously known as a term paper or library paper, usually between five and fifteen pages long—most instructors specify a minimum length—in which we present our views and findings on the chosen subject.

The word research is composed of two syllables, re and search.re is a prefix meaning again, anew or over again search is a verb meaning to examine closely and carefully, to test and try, or to probe. Together they form a noun describing a careful, systematic, patient study and investigation in some field of knowledge, undertaken to establish facts or principles. Below some definitions of research from various authors.

- Kumar Singh, Yogesh. 2006. Fundamental of Research Methodology and Statistic, Mumbai: New Age International Publisher. 
Actually research is simply the process of arriving as dependable solution to a problem through the planned and systematic collection, analysis and interpretation of data. Research is the most important process for advancing knowledge for promoting progress and to enable man to relate more ffectively to his environment to accomplish his purpose and to resolve his conflicts. Although it is not the only way, it is one of the more effective ways of solving scientific problem.

- Mouly, George. 1970. The Science of Educational Research Methods. London: University of London Press Ltd.   
The systematic and scholarly application of the scientific method interpreted in its broader sense, to the solution of social studiesal problems; conversely, any systematic study designed to promote the development of social studies as a science can be considered research.

- Woody, Clifford. 1927 of the University of Michigan the Journal of Social Studies Research. 
Research is a carefully inquiry or examination in seeking facts or principles; a diligent investigation to ascertain something,  according to Webster’s New International Dictionary. This definition makes clear the fact that research is not merely a search for truth, but a prolonged, intensive, purposeful search. In the last analysis,research constitutes a method for the discovery of truth which is really a method of critical thinking. It comprises defining and redefining problems; formulating hypotheses or suggested solutions; collecting, organising and evaluating data; making deductions and reaching conclusions; and at last, carefully testing the conclusions to determine whether they fit the formulating hypotheses.

- Best, John W. 1977. Research in Education, Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall Inc.
Research is considered to be the more formal, systematic, intensive process of carrying on the scientific methods of analysis. It involves a more systematic structure of investigation, usually resulting in some sort of formal record of procedures and a report of results or conclusions.Research is but diligent search which enjoys the high flavour or primitive hunting.

- McGrath. J. H. 1961. Research Methods and Designs for Education, Pennsylvania: International Textbook Company, An Intent Publisher. 
Research is a process which has utility to the extent that class of inquiry employed as the research activity vehicle is capable of adding knowledge, of stimulating progress and helping society and man relate more efficiently and effectively to the problems that society and man perpetuate and create.

- Creswell, John W. 2012.Educational Research, Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qualitative Research. Boston: Pearson. 
Research is a process of steps used to collect and analyze information to increase our understanding of a topic or issue. At a general level, research consists of three steps:
1. Pose a question.
2. Collect data to answer the question.
3. Present an answer to the question.


- D. Slesinger and M. Stephenson in the Encyclopaedia of Social Sciences  
Research is the manipulation of things, concepts or symbols for the purpose of generalising to extend, correct or verify knowledge, whether that knowledge aids in construction of theory or in the practice of an art.

-  C.R. Kothari. 2004. Research Methodology, Methods and Technique. Jaipur: New Age International Publisher. 
An original contribution to the existing stock of knowledge making for its advancement. It is the persuit of truth with the help of study, observation, comparison and experiment. In short, the search for knowledge through objective and systematic method of finding solution to a problem is research. The systematic approach concerning generalisation and the formulation of a theory is also research. As such the term ‘research’ refers to the systematic method consisting of enunciating the problem, formulating a hypothesis, collecting the facts or data, analysing the facts and reaching certain conclusions either in the form of solutions(s) towards the concerned problem or in certain generalisations for some theoretical formulation.

- Walliman, Nicholas. 2011. Research Methods The Basic. London: Routledge.
Research is about acquiring knowledge and developing understanding,collecting facts and interpreting them to build up a picture of the world around us, and even within us. It is fairly obvious then, that we should hold a view on what knowledge is and how we can make sense of our surroundings. These views will be based on the philosophical stance that we take.

- Postlethwaitem, T. Neville. 2005. Educational Research:Some Basic Concepts and Terminology. Paris: UNESCO. 
Research is the orderly investigation of a subject matter for the purpose of adding to k nowledge. Resea rch can mean ‘re- search’ implyi ng t hat the subject matter is already known but, for one reason or another, needs to be studied again. Alternatively, the expression can be used without a hyphen and in this case it typical ly means i nvest igat ing a new problem or phenomenon.

 - Richards, Jack C. and Richard Schmidt. 2002. Longman Dictionary of Language Teaching and Applied Linguistics. London. Pearson Education Limited.  
Research is the study of an event, problem or phenomenon using systematic methods,in order to understand it better and to develop principles and theories about it.

Hope today's posting will be useful for all of us. Amien.

Sahabat

Sahabat bukan mereka yang menghampirimu ketika butuh, namun mereka yg tetap bersamamu ketika seluruh dunia menjauh.
Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya.
“Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya”
Tak ada yang sempurna, sahabatpun pernah berbuat salah, tapi kamu selalu temukan sebuah alasan tuk maafkan mereka.
“Sahabat yang baik adalah orang yang sangat kita percayai dan membuat kita tenang bersamanya. Dia menjadi tempat berbagi kelelahan, berbagi kesedihan dan tidak pernah menjual rahasia diri kita”
Siapa yang ingin bersama kamu pada saat tiada satupun yang dapat kamu berikan??. Merekalah sahabat-sahabat kamu.
“Jangan hianati dia! karena dialah yang selalu ada sebagai penggantimu, karena dia sahabatmu!”
Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari pada seribu teman yang mementingkan diri sendiri.
Dalam masa kejayaan, teman-teman mengenal kita. Dalam kesengsaraan, kita mengenal teman-teman kita. Ingatlah kapan terakhir kali kamu berada dalam kesulitan. Siapa yang berada di samping kamu??. Siapa yang mengasihi kamu saat kamu merasa tidak dicintai.
“Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya”
“Sahabat terbaik adalah dia yang dapat duduk berayun-ayun di beranda bersamamu, tanpa mengucapkan sepatah katapun, dan kemudian kamu meninggalkannya dengan perasaan telah bercakap-cakap lama dengannya”
“Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur-disakiti, diperhatikan-dikecewakan, didengar-diabaikan, dibantu-ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian”
“Tiada yang lebih indah daripada kasih seorang sahabat, sahabat menaruh kasih di setiap waktu selalu ada dalam setiap kesukaran”

Rabu, 02 Oktober 2013

Hakikat Menulis (Writing)

Hakikat Menulis (Writing)

Written by Ari Julianto


Tulisan adalah rekaman peristiwa, pengalaman, pengetahuan, ilmu, serta pemikiran manusia sebagaimana diungkapkan Wiyanto (2004: 4). Hasil menulis yang berisikan rekaman peristiwa biasanya berupa tulisan yang mengandung unsur berita contohnya koran, majalah, dan tabloid. Hasil menulis yang menceritakan pengalaman misalnya catatan harian, jurnal, dan otobiografis. Bentuk tulisan yang mengandung pengetahuan dan ilmu misalnya laporan penelitian, artikel, skripsi, tesis, dan desertasi.  Hasil menulis yang berisikan tentang pemikiran manusia misalnya buku-buku fiksi dan buku-buku non fiksi.

Mengenai hakikat menulis, Hyland (2003: 9) mengatakan bahwa menulis adalah cara menyampaikan, mengungkapkan perasaan dan berbagi pengalaman penulis kepada pembaca dengan menggunakan bahasa tulis.  Menulis menurut Reid (1987: 34) adalah suatu proses untuk mengungkapkan ide, pikiran dan perasaan atau pengalaman penulis dengan menggunakan sistem yang konvensional sehingga pembaca memahami pesan yang dikirim.

Menulis, menurut Heaton JB. (1988) pada prinsipnya adalah suatu aktivitas di mana penulis menuangkan ideanya, pendapatnya, pengalamanya, dan gagasannya ke dalam bentuk linguistik dengan menggunakan kaidah-kaidah menulis seperti isi (content), tata bahasa (structure), mekanik (mechanics), pengorganisasian ide (organization) dan kosa kata (vocabulary) agar dipahami oleh pembaca. Dengan demikian, menulis pada hakikatnya adalah menyampaikan suatu ide kepada pembaca dengan tujuan tertentu dalam konteks sosial yang tertentu. Sejalan dengan itu, Sharples mengatakan bahwa menulis sebagai suatu proses dan aktivitas mental yang kompleks yang memerlukan perencanaan, proses berpikir analitik dan sintetik, pengetahuan dan penguasaan,  fitur linguistik, dan pengetahuan mengenai kondisi lingkungan sosial dan budaya seperti dinyatakan Sharpless (1999: 6).

Menurut Nurgiantoro (1987:270), aktivitas menulis merupakan suatu bentuk manivestasi kemampuan berbahasa paling akhir dikuasai siswa setelah mendengarkan, berbicara, dan membaca.Dibandingkan dengan ketiga kemampuan berbahasa itu, menulis lebih sulit untuk dikuasai.

Sejalan dengan itu, menulis juga dipengaruhi dan dibentuk oleh lingkungan sosial di mana tulisan itu digunakan. Weigle (2002: 29)) mengatakan bahwa menulis bukan semata-mata memerlukan kemampuan kognitif dan linguistik dari penulisnya tetapi juga memahami konteks sosial dan budaya.  Hal ini menjadi relevan  karena menulis berlangsung pada konteks sosial yang memiliki tujuan khusus atau tertentu yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pembacanya. Sperling (1996) dalam Weigle (2002: 29) mengatakan bahwa  menulis adalah kegiatan penggunaan bahasa yang dibentuk, ditentukan dan dipengaruhi oleh realitas sosial dan budaya dan individu itu sendiri yang memiliki tujuan sosial.

Berkaitan  dengan menulis  dipengaruhi  dan dibentuk oleh aspek sosial dan budaya, Hayes (1996) dalam Weigle (2002: 19) lebih lanjut berpendapat:
"Menulis pada hakikatnya merupakan produk sosial dan  yang dilaksanakan dan digunakan pada lingkungan sosial. Apa yang ditulis, bagaiamana menulisnya, dan untuk siapa tulisan itu dibentuk dan ditentukan oleh konvensi sosial dan pengalaman interaksi penulis dan pembaca. Genre menulis dihasilkan dan dipengaruhi oleh penulis sendiri dan  frase atau bahasa yang digunakan sering mencerminkan pengalaman bahasa dan penulis sebelumnya yang pernah ditulis."

Sejalan dengan pendapat di atas, dalam menulis berbasis genre khsususnya, seorang penulis juga harus harus memperhatikan dan menguasai hal-hal seperti
1. tujuan menulis (purpose),
2. kepada siapa tulisan itu ditujukan/pembaca (reader),
3. struktur retorik (rhetorical structure),
4. realiasasi penggunaan bentuk kebahasaan (linguistic realization or grammatical patterns), dan
5. perangkat tekstual (textual devices).

Kelima indikator/karakteristik ini harus diimplementasikan oleh penulis agar tulisannya dapat  dipahami oleh penulis sendiri dan pembaca sebagaimana diungkapkan Pardiyono (2007: 8).

Menurut Howard dan Barton (dalam Indriati, 2006:34), menulis adalah
1. kegiatan simbolik yang membuahkan makna,
2. bagaikan kegiatan di atas pentas untuk menyampaikan makna kepada orang lain, dan
3. cara untuk mengekspresikan diri dan alat untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Dari ketiga definisi tersebut mengandung makna bahwa menulis merupakan kegiatan di atas kertas. Bahan tulisan di atas kertas bagaikan penampilan pemain drama di atas pentas. Apabila pemain tidak menguasai skenario drama dan  penguasaan panggung, maka penonton tidak akan memahami/mengerti apa yang di maksud oleh pemain drama tersebut. Begitu juga dengan kegiatan menulis, apabila tulisan tidak menarik, dan tidak baik (dalam hal ini tidak sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku) maka pembaca tidak akan mengerti apa yang dimaksud oleh penulis.

Berkaitan dengan menulis sebagai sebuah keterampilan berbahasa yang sulit dan kompleks, White dan Arnd (2001: 3) mengatakan:
"Menulis adalah bentuk pemecahan masalah yang melibatkan proses pengembangan gagasan, menemujkan 'suara' yang akan  ditulis, setting tujuan, memantau dan mengevaluasi aoa yang akan ditulis dan juga yang sudah ditulis serta mencari bahasa yang mengekspresikan arti sebenarnya."

Sulitnya menulis juga diutarakan oleh Hyland (2003: 2) yang mengatakan bahwa
"Menulis itu sulit sebab ia mencakup sejumlah komponen seperti struktur bahasa, fungsi teks, tema atau topkekspresi yang kreatif, proses mengarang, isi dan genre serta konteks penulisan. Dan menulis merupakan tindakan kreatif penemuan diri serta penemuan arti."

Merujuk pada kutipan di atas, dapat disimpulkan bahwa menulis adalah suatu proses menuangkan dan menyampaikan ide dan menemukan ide untuk ditulis, menentukan tujuan, melakukan monitoring dan mengevaluasi apa yang sudah ditulis untuk direvisi dan diperbaiki dengan menggunakan kaidah kebahasaan yang benar untuk menyampaikannya dengan makna yang tepat dan akurat serta efektif.

Berkaitan dengan kejelasan dan keakuratan menulis,  agar  informasi dan pesan yang dituangkan dalam menulis (written text) agar dapat dimaknai oleh pembaca  juga sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti diungkapkan Pardiyon0 (2007: 8) yakni
1. efektivitas penggunaan bahasa,
2. penulis teks, 
3. tulisan itu sendiri,
4. dan pembaca sebagai penerima informasi.

Kemudian Hyland (2003: 79) menambahkan bahwa dalam pembelajaran menulis ada tiga elemen kerangka (tripartite-framework) yang harus dipahami oleh pengajar yang kemudian disebut “elements of a writing pedagogy.”  Ketiga elemen tersebut adalah
1. penulis,
2. teks/tulisan, dan
3. pembaca.
Pemahaman elemen-elemen tersebut sangat membantu pembelajar dan pengajar dalam proses menulis.

Dia lebih lanjut menguraikan ketiga elemen tersebut secara detail.
1.Penulis (Writer-student)-elemen penulis yang perlu diperhatikan oleh pengajar/dosen meliputi
   a kemampuan awal terhadap bahasa yang sedang dipelajari (asing/kedua), latar belakang bahasa pertama, 
   b.pengalaman sebelumnya mengenai kegiatan menulis,
   c kemampuan kognisi secara umum dan faktor motivasi,
   d pengetahuan tentang topik atau tema menulis, dan
   e proses menulis yang diterapkan.
2. Teks (text)-elemen-elemen teks itu sendiri dapat berupa
   a keautentikan dari tujuan dan latihan-latihan/tugas dari menulis itu sendiri,
   b  jumlah dan variasi dari tugas tugas yang diberikan dalam menulis, dan
   c model dan pengembangan serta ekplorasi genre menulis, dan
   d keluasan dan jangkuan kemungkinan retorika dan eksiko-gramatika  yang dibutuhkan dan digunakan.
3. Pembaca (reader)-agar tulisan sesuai dengan sasarannya-pembaca,, seorang penulis juga harus memperhatikan hal-hal seperti
   a orientasi target pembaca khusus atau pembaca wacana tertentu (particular discourse community),
   b kebutuhan riil bagi pembaca yang memiliki dimensi yang beragam,
   c kesadaran akan tingkat kesesuain dari keterlibatan dan interaksi strategi, dan 
   d  pentingnya feedback dan respon dari pembaca.

Menurut Wiyanto (2004:2), kata menulis mempunyai arti kegiatan mengungkapkan gagasan secara tertulis. Gagasan merupakan hasil pemikiran mengenai sesuatu sebagai pokok atau tumpuan untuk pemikiran selanjutnya. Setiap penulis mempunyai pikiran yang ingin disampaikan atau dikomunikasikan kepada orang lain. Dalam hal ini, menterjemahkan ide-ide kedalam bentuk huruf-huruf.

Huruf dan tanda baca menjadi wakil bunyi bahasa yang berisikan gagasan ditulis di sebuah media untuk disampaikan kepada orang lain. Jadi, pada hakikatnya menulis merupakan proses kegiatan memanfaatkan lambang-lambang grafis untuk menyampaikan ide, gagasan, dan pesan dengan menggunakan alat tulis.

Menurut Angelo (1980: 5)Menulis adalah suatu bentuk berpikir, tetapi justru berpikir bagi membaca tertentu dan bagi waktu tertentu. Salah satu tugas terpenting sang penulis adalah menguasai prinsip-prinsip menulis dan berpikir, yang akan dapat menolongnya mencapai maksud dan tujuannya. Yang paling penting di antara prinsip-prinsip yang dimaksudkan itu adalah penemuan, susunan, dan gaya. Secara singkat belajar menulis adalah belajar berpikir dalam/dengan cara tertentu.

Lebih lanjut Angelo (1980: 20) mengungkapkan, penulis yang ulung adalah penulis yang dapat memanfaatkan situasi dengan tepat. Situasi yang harus diperhatikan dan dimanfaatkan itu sebagai berikut.
1. Maksud dan tujuan sang penulis (perubahan yang diharapkannya akan terjadi pada diri pembaca).
2. Pembaca atau pemirsa (apakah pembaca itu orang tua, kenalan, atau teman sang penulis).
3. Waktu atau kesempatan (keadaan-keadaan yang melibatkan  berlangsungnya suatu kejadian tertentu, waktu, tempat, dan situasi yang menuntut perhatian langsung, masalah yang memerlukan pemecahan, pertanyaan yang menuntut jawaban, dan sebagainya) .


Referensi

Angelo, Frank J.1980. Composition in the Classical Tradition. New York: Allyn & Bacon.

Howard, V.A. and J.H. Barton. 1986. Thinking on Paper. New York: Harper Collins.

Hyland, Ken. 2003. Second Language Writing. London: Cambridge University Press.

Nurgiyantoro, Burhan. 1988. Penilaian dalam pengajaran bahasa dan sastra. BPFE: Yogyakarta.

Pardiyono. 2007. Pasti Bisa:Teaching Genre Based Writing. Yogyakarta: Andi.

Reid. M. Joy. 1987. Teaching ESL Writing. Wyoming: Prentice Hall Regent.

Ron  White dan  Valerie Arndt. 2001. Process Writing.
New York: Longman.Sharples, Mike. 1999. New York:Routledge.

Weigle, Sarah Cusging. 2002. Assessing Writing. London: Cambridge: Cambridge University Press.

Wiyanto, Asul. 2004. Terampil Menulis Paragraf. Jakarta: Grasindo.




Selasa, 01 Oktober 2013

The Null and Alternative Hypothesis

      The Null and Alternative Hypothesis

Written by Donald Ary et al in Introduction to Research in Education. Belmount: Wadsworth.2010. pp.91-92


I. The Null Hypothesis
It is impossible to test research hypotheses directly. You must fi rst state a null hypothesis (symbolized H0) and assess the probability that this null hypothesis is true. The null hypothesis is a statistical hypothesis. It is called the null ypothesis because it states that there is no relationship between the variables in the population.

A null hypothesis states a negation (not the reverse) of what the experimenter expects or predicts. A researcher may hope to show that after an experimental treatment, two populations will have different means, but the null hypothesis would state that after the treatment the populations’ means will not be different.

What is the point of the null hypothesis? A null hypothesis lets researchers assess whether apparent relationships are genuine or are likely  to be a function of chance alone. It states, “The results of this study could easily have happened by chance.”

Statistical tests are used to determine the probability that the null hypothesis is true. If the tests indicate that observed relationships had only a slight probability of occurring by chance, the null hypothesis becomes an unlikely explanation and the researcher rejects it. Researchers aim to reject the null hypothesis as they try to show there is a relationship between the variables of the study.

Testing a null hypothesis is analogous to the prosecutor’s work in a criminal trial. To establish guilt, the prosecutor (in the U.S. legal system) must provide sufficient evidence to enable a jury to reject the presumption of innocence beyond reasonable doubt. It is not possible for a prosecutor to prove guilt conclusively, nor can a researcher obtain unequivocal support for a research hypothesis.
The defendant is presumed innocent until sufficient evidence indicates that he or she is not, and the null hypothesis is presumed true until sufficient evidence indicates otherwise.

For example, you might start with the expectation that children will exhibit greater mastery of mathematical concepts through individual instruction than through group instruction. In other words, you are positing a relationship between the independent variable (method of instruction) and the dependent variable (mastery of mathematical concepts).

The research hypothesis is “Students taught  through individual instruction will exhibit greater mastery of mathematical concepts than students taught through group instruction.” The null hypothesis, the statement of no relationship between variables, will read “The mean mastery scores (population mean μi) of all students taught by individual instruction will equal the mean mastery scores (population mean μg) of all those taught by group instruction.” H0: μi = μg.

II. The Alternative Hypothesis

Note that the hypothesis “Children taught by individual instruction will exhibit less mastery of mathematical concepts than those taught by group instruction” posits a relationship between variables and therefore is not a null hypothesis. It is an example of an alternative hypothesis.

In the example, if the sample mean of the measure of mastery of mathematical concepts is higher for the individual instruction students than for the group instruction students, and inferential statistics indicate that the null hypothesis is unlikely to be true, you reject the null hypothesis and tentatively conclude that individual instruction results in greater mastery of mathematical concepts than does group instruction.

If, in contrast, the mean for the group instruction students is higher than the mean for the individual instruction students, and inferential statistics indicate that this difference is not likely to be a function of chance, then you tentatively conclude that group instruction is superior.

If inferential statistics indicate that observed differences between the means of the two instructional groups could easily be a function of chance, the null hypothesis is retained, and you decide that insufficient evidence exists for concluding there is a relationship between the dependent and independent variables.

The retention of a null hypothesis is not positive evidence that the null hypothesis is true. It indicates that the evidence is insufficient and that the null hypothesis,the research hypothesis, and the alternative hypothesis are all possible.

Types of Business Research


Types of Business Research

Written by William G. Zikmund, Barry J. Babin, Jon C. Carr, and Mitch Griffin in Business Research Methods. South-Western Cengage Learning. 2009.



Business research covers a wide range of phenomena. For managers, the purpose of research is to provide knowledge regarding the organization, the market, the economy, or another area of uncertainty. 

I. Definition
Business research is the application of the scientific method in searching for the truth about business phenomena. These activities include defining business opportunities and problems, generating and evaluating alternative courses of action, and monitoring employee and organizational performance. Business research is more than conducting surveys.

This process includes idea and theory development, problem definition, searching for and collecting information, analyzing data, and communicating the findings and their implications. This definition suggests that business research information is not intuitive or haphazardly gathered.

Literally, research (re-search) means “to search again.” The term connotes patient study and scientific investigation wherein the researcher takes another, more careful look at the data to discover all that is known about the subject. Ultimately, all findings are tied back to the underlying theory.

The definition also emphasizes, through reference to the scientific method, that any information generated should be accurate and objective. The nineteenth-century American humorist Artemus Ward claimed, “It ain’t the things we don’t know that gets us in trouble. It’s the things we know that ain’t so.” In other words, research isn’t performed to support preconceived ideasbut to test them. The researcher must be personally detached and free of bias in attempting to find truth. If bias enters into the research process, the value of the research is considerably reduced.

Finally, this definition of business research is limited by one’s definition of business. Certainly, research regarding production, finance, marketing, and management in for-profit corporations like DuPont is business research. However, business research also includes efforts that assist nonprofit organizations such as the American Heart Association, the San Diego Zoo, the Boston Pops Orchestra, or a parochial school. Further, governmental agencies such as the Federal Emergency Management Agency (FEMA) and the Department of Homeland Security (DHS) perform many functions that are similar, if not identical, to those of for-profit business organizations. For instance,  the Food and Drug Administration (FDA) is an important user of research, employing it to address the way people view and use various food and drugs. One such study commissioned and funded research to address the question of how consumers used the risk summaries that are included with all drugs sold in the United States. 

II. Types of Business Research
Business research is undertaken to reduce uncertainty and focus decision making. In more ambiguous circumstances, management may be totally unaware of a business problem. Alternatively, someone may be scanning the environment for opportunities. For example, an entrepreneur may have a personal interest in softball and baseball. She is interested in converting her hobby into a profitable business venture and hits on the idea of establishing an indoor softball and baseball training facility and instructional center. However, the demand for such a business is unknown. Even if there is sufficient demand, she is not sure of the best location, actual services offered, desired hours of operation, and so forth. Some preliminary research is necessary to gain insights into the nature of such a situation. Without it, the situation may remain too ambiguous to make more than a seat-of-the-pants decision. In this situation, business research is almost certainly needed.

In other situations, researchers know exactly what their problems are and can design careful studies to test specific hypotheses. For example, an organization may face a problem regarding health care benefits for their employees. Awareness of this problem could be based on input from human resource managers, recruiters, and current employees. The problem could be contributing to difficulties in recruiting new employees. How should the organization’s executive team address this problem? They may devise a careful test exploring which of three different health plans are judged the most desirable. This type of research is problem-oriented and seems relatively unambiguous.

This process may culminate with researchers preparing a report suggesting the relative effect of each alternative plan on employee recruitment. The selection of a new health plan should follow relatively directly from the research.

Business research can be classified on the basis of either technique or purpose. Experiments, surveys, and observational studies are just a few common research techniques. Classifying research by its purpose, such as the situations described above, shows how the nature of a decision situation influences the research methodology. The following section introduces the three types of business research: 

1. Exploratory
Exploratory research is conducted to clarify ambiguous situations or discover potential business opportunities. As the name implies, exploratory research is not intended to provide conclusive evidence from which to determine a particular course of action. 

2. Descriptive
As the name implies, the major purpose of descriptive research is to describe characteristics of objects, people, groups, organizations, or environments. In other words, descriptive research tries to “paint a picture” of a given situation by addressing who, what, when, where, and how questions. 

3. Causal
Causal research seeks to identify causeand-effect relationships. When something causes an effect, it means it brings it about or makes it happen. The effect is the outcome. Rain causes grass to get wet. Rain is the cause and wet grass is the effect. 

III. Stages in the Research Process
Business research, like other forms of scientific inquiry, involves a sequence of highly interrelated activities. The stages of the research process overlap continuously, and it is clearly an oversimplification to state that every research project has exactly the same ordered sequence of activities. Nevertheless, business research often follows a general pattern. We offer the following research business stages:
1. Defining the research objectives
2. Planning a research design
3. Planning a sample
4. Collecting the data
5. Analyzing the data
6. Formulating the conclusions and preparing the report

Senin, 30 September 2013

Kaidah Penulisan Soal (Test)

                       Kaidah Penulisan Soal (Test)


                                Written by Ari Julianto



Untuk mengetahui tingkat pencapaian kompetensi, peneliti atauguru dapat melakukan penilaian melalui tes dan non tes. Tesmeliputi tes lisan, tertulis (bentuk uraian, pilihan ganda, jawaban singkat, isian, menjodohkan, benar-salah), dan tes perbuatan yang meliputi: kinerja (performance), penugasan (project) dan hasil karya (product).

I. Pengertian
Menurut Salvia and Ysseldyke (2004: 29), tes adalah seperangkat pertanyaan atau tugas tertentu untuk tujuan jenis respons tertentu yang diinginkan. Tes khususnya berguna dikarenakan tugas dan pertanyaan yang disajikan sama untuk setiap individu.

Menurut Harris dan Cann (1994: 5), tes dikategorikan menjadi
(1) Informal tes
Merupakan cara mengumpulkan informasi mengenai kinerja peserta didik dalam kondisi belajar yang normal.

(2) Formal tes
Merupakan cara mengumpulkan informasi kinerja peserta didik melalui kondisi belajar yang tertentu.

II. Langkah-langkah Pengembangan Tes dan Non Tes
1. Test
(1) menentukan tujuan penilaian,
(2) menentukan kompetensi yang diujikan
(3) menentukan materi penting pendukung kompetensi (urgensi, kontinuitas, relevansi, keterpakaian),
(4) menentukan jenis tes yang tepat (tertulis, lisan, perbuatan),
(5) menyusun kisi-kisi, butir soal, dan pedoman penskoran,
(6) melakukan telaah butir soal.

2. Non Tes
(1) menentukan tujuan penilaian,
(2) menentukan kompetensi yang diujikan,
(3) menentukan aspek yang diukur,
(4) menyusun tabel pengamatan dan pedoman penskorannya,
(5) melakukan penelaahan.


III. Jenis-jenis Tes
Harris dan Cann (1994: 28) menyebutkan beberapa jenis tes,antara lain:
(1) Progress tests, diberikan selama proses belajar.
(2) Summative tests, diberikan di akahir masa belajar.
(3) Entry/placement tests, diberikan untuk mengindikasikan tingkat mana yang sesuai bagi peserta didik.
(4) Diagnostic test, diberikan untuk mengetahui cakupan masalah.
(5) Proficiency tests, diberikan untuk mengetahui kemampuanpeserta didik dalam berbahasa asing.

Menurut Rust and Golombok (2000: 38–47) tes dikategorikan menjadi:
(1) Norm-referenced tests versus criterionreferenced tests
(2) Knowledge-based tests versus person-based tests, dan
(2) Objective tests versus open-ended test

Sedangkan menurut Salvia dan Ysseldyke (2004: 29) menyebutkan ada dua dimensi tes, yakni
(1) Performance standards
Perbandingan antara peserta didik dengan siswa lainnya bisa melalui skor denhgan tes yang sama.
(2) Informational context.
Perbandingan informasi peserta didik dengan siswa lainnya

Menurut Boyle dan Fisher (2007: 14), tes dapat dibedakan menjadi:
1 Norm-referenced assessment,
2 Criterion-referenced assessment,
3 Curriculum-based assessment, dan
4 Dynamic assessment


IV. Syarat Sebuah Tes
Pada umumnya syarat soal yang bermutu adalah
1. Soal harus sahih (valid)
Maksudnya bahwa setiap alat ukur hanya mengukur satudimensi/aspek saja.
2. Soal harus handal.
Maksudnya bahwa setiap alat ukur harus dapat memberikan hasilpengukuran yang tepat, cermat, dan ajeg.


Sedangkan menurut Linn dan Gronlund (1995: 47) tes yang baik harus memenuhi tiga karakteristik, yaitu:
1. Validitas
Artinya ketepatan interpretasi hasil prosedur pengukuran.

Menurut Messick (1993: 16) validitas secara tradisional terdiri dari:
(1) validitas isi, yaitu ketepatan materi yang diukur dalam tes;
(2) validitas criterion-related, yaitu membandingkan tes dengan satu atau lebih variabel atau kriteria,
(3) valitidas prediktif, yaitu ketepatan hasil pengukuran dengan alat lain yang dilakukan kemudian;
(4) validitas serentak (concurrent), yaitu ketepatan hasil pengukuran dengan dua alat ukur lainnya yang dilakukan secara serentak;
(5) validitas konstruk, yaitu ketepatan konstruksi teoretis yang mendasari disusunnya tes.

Menurut Linn dan Gronlund (1995 : 50) validitas terdiri dari:
(1) isi (content),
(2) hubungan kriteria tes (test-criterion relationship),
(3) susunan (construction), dan
(4) konsekuensi (consequences), yaitu ketepatan penggunaan hasil pengukuran.

2. Reliabilitas
Artinya konsistensi hasil pengukuran.
Menurut Ebel dan Frisbie (1991 : 76), faktor yang mempengaruhi reliabilitas yang berhubungan dengan tes adalah:
(1) banyak butir,
(2) homogenitas materi tes,
(3) homogenitas karakteristik butir, dan
(4) variabilitas skor.

3. Usabilitas
Artinya praktis prosedurnya.

Menurut Harris dan Fisher, syarat tes meliputi:
(1) constructive (fokus pada hasil yang ingin dicapai),
(2) reliability (konsistensi pada hasil pengukuran),
(3) validity (sahih)
(4) practicality (praktis dalam segi waktu dan tempat)
(5) accountability (dapat dipercaya dengan memberi laporan hasil tes)

V. Langkah-langkah Penyusunan Butir Soal
(1) menentukan tujuan tes,
(2) menentukan kompetensi yang akan diujikan,
(3) menentukan materi yang diujikan,
(4) menetapkan penyebaran butir soal berdasarkan kompetensi, materi, dan bentuk penilaiannya (tes tertulis: bentuk pilihanganda, uraian; dan tes praktik),
(5) menyusun kisi-kisinya,
(6) menulis butir soal,
(7) memvalidasi butir soal atau menelaah secara kualitatif,
(8) merakit soal menjadi perangkat tes,
(9) menyusun pedoman penskorannya
(10) uji coba butir soal,
(11) analisis butir soal secara kuantitatif dari data empirik hasil uji coba, dan
(12) perbaikan soal berdasarkan hasil analisis.

VI. Kaidah Penulisan Soal Uraian (Essay Test)
1. Materi
     a. Soal harus sesuai dengan indikator.
     b. Setiap pertanyaan harus diberikan batasan jawaban yang diharapkan.
     c. Materi yang ditanyakan harus sesuai dengan tujuan peugukuran.
     d. Materi yang ditanyakan harus sesuai dengan jenjang jenissekolah atau tingkat kelas.

2. Konstruksi
     a. Menggunakan kata tanya/perintah yang menuntut jawaban terurai.
     b. Ada petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal.
     c. Setiap soal harus ada pedoman penskorannya.
     d. Tabel, gambar, grafik, peta, atau yang sejenisnya disajikan dengan jelas, terbaca, dan berfungsi.

3. Bahasa
     a. Rumusan kalimat soal harus komunikatif.
     b. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar (baku).
     c. Tidak menimbulkan penafsiran ganda.
     d. Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu.
     e. Tidak mengandung kata/ungkapan yang menyinggung perasaan peserta didik.


VII. Kaidah Penulisan Soal Pilihan Ganda (Multiple Choice)
1. Materi
     a. Soal harus sesuai dengan indikator. Artinya soal harus menanyakan perilaku dan materi yang hendak diukur sesuai dengan rumusan indikator dalam kisi-kisi.
     b. Pengecoh harus bertungsi
     c. Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar. Artinya, satu soal hanya mempunyai satu kunci jawaban.

2. Konstruksi
     a. Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas. Artinya, kemampuan/ materi yang hendak diukur/ditanyakan harus jelas, tidak menimbulkan pengertian atau penafsiran yang berbeda dari yang dimaksudkan penulis. Setiap butir soal hanya mengandung satu persoalan/gagasan.

     b. Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja. Artinya apabila terdapat rumusan atau pernyataan yang sebetulnya tidak diperlukan, maka rumusan atau pernyataan itu dihilangkan saja.

     c. Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban yang benar. Artinya, pada pokok soal jangan sampai terdapat kata, kelompok kata, atau ungkapan yang dapat memberikan petunjuk ke arah jawaban yang benar.
     d. Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda. Artinya, pada pokok soal jangan sampai terdapat dua kata atau lebih yang mengandung arti negatif. Hal ini untuk mencegahterjadinya kesalahan penafsiran peserta didik terhadap arti pernyataan yang dimaksud. Untuk keterampilan bahasa, penggunaan negatif ganda diperbolehkan bila aspek yang akan diukur justru pengertian tentang negatif ganda itu sendiri.
     e. Pilihan jawaban harus homogen dan logis ditinjau dari segi materi. Artinya, semua pilihan jawaban harus berasal dari materi yang sama seperti yang ditanyakan oleh pokok soal, penulisannya harus setara, dan semua pilihan jawaban harus berfungsi.
      f. Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama. Kaidah ini diperlukan karena adanya kecenderungan peserta didik memilih jawaban yang paling panjang karena seringkali jawaban yang lebih panjang itu lebih lengkap dan merupakan kunci jawaban.
      g. Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan “Semua pilihan jawaban di atas salah" atau "Semua pilihan jawaban di atas benar". Artinya dengan adanya pilihan jawaban seperti ini, maka secara materi pilihan jawaban berkurang satu karena pernyataan itu bukan merupakan materi yang ditanyakan dan pernyataan itu menjadi tidak homogen.    
     h.Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka atau kronologis. Artinya pilihan jawaban yang berbentuk angka harus disusun dari nilai angka paling kecil berurutan sampai nilai angka yang paling besar, dan sebaliknya. Demikian juga pilihan jawaban yang menunjukkan waktu harus disusun secara kronologis. Penyusunan secara unit dimaksudkan untuk memudahkan peserta didik melihat pilihan jawaban.
      i. Gambar, grafik, tabel, diagram, wacana, dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas dan berfungsi. Artinya, apa saja yang menyertai suatu soal yang ditanyakan harus jelas, terbaca, dapat dimengerti oleh peserta didik. Apabila soal bisa dijawab tanpa melihat gambar, grafik, tabel atau sejenisnya yang terdapat pada soal, berarti gambar, grafik, atau tabel itu tidak berfungsi.
      j. Rumusan pokok soal tidak menggunakan ungkapan atau kata yang bermakna tidak pasti seperti: sebaiknya, umumnya, kadang-kadang.
      k. Butir soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya. Ketergantungan pada soal sebelumnya menyebabkan peserta didik yang tidak dapat menjawab benar soal pertama tidak akan dapat menjawab benar soal berikutnya.

3. Bahasa
a. Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Kaidah bahasa Indonesia dalam penulisan soal di antaranya meliputi:
(1) Pemakaian kalimat:
    (a) unsur subyek,
    (b) unsur predikat,
    (c) anak kalimat;
(2) Pemakaian kata:
    (a) pilihan kata,
    (b) penulisan kata, dan
(3). Pemakaian ejaan
    (a) penulisan huruf,
    (b) penggunaan tanda baca.
b. Bahasa yang digunakan harus komunikatif, sehingga pernyataannya mudah dimengerti warga belajar/peserta didik.
c. Pilihan jawaban jangan yang mengulang kata/frase yang bukan merupakan satu kesatuan pengertian. Letakkan kata/frase pada pokok soal.


VIII. Kaidah Penulisan Soal Tes Perbuatan (Practice Test)
1. Materi
a. Soal harus sesuai dengan indikator (menuntut tes perbuatan: kinerja, hasil karya, atau penugasan).
b. Pertanyaan dan jawaban yang diharapkan harus sesuai.
c. Materi sesuai dengan kompetensi (urgensi, relevansi,kontinuitas, keterpakaian sehari-hari tinggi).
d. Isi materi yang ditanyakan sesuai dengan jenjang jenis sekolah atau tingkat kelas.

2. Konstruksi
a. Menggunakan kata tanya atau perintah yang menuntut jawaban perbuatan/praktik.
b. Ada petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal.
c. Disusun pedoman penskorannya.
d. Tabel, gambar, grafik, peta, atau yang sejenisnya disajikan dengan jelas dan terbaca.

3. Bahasa
a. Rumusan kalimat soal komunikatif
b. Butir soal menggunakan bahasa Indonesia yang baku.
c. Tidak menggunakan kata/ungkapan yang menimbulkan penafsiran ganda atau salah pengertian.
d. Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu.
e. Rumusan soal tidak mengandung kata/ungkapan yang dapat menyinggung perasaan peserta didik.

IX. Kaidah Penulisan Soal Non Tes
1. Materi
a. Pernyataan harus sesuai dengan rumusan indikator dalam kisi-kisi.
b. Aspek yang diukur pada setiap pernyataan sudah sesuai dengan tuntutan dalam kisi-kisi (misal untuk tes sikap: aspek kognisi, afeksi atau konasinya dan pernyataan positif atau negatifnya).

2. Konstruksi
a. Pernyataan dirumuskan dengan singkat (tidak melebihi 20 kata) dan jelas.
b. Kalimatnya bebas dari pernyataan yang tidak relevan objek yang dipersoalkan atau kalimatnya merupakan pernyataan yang diperlukan saja.
c. Kalimatnya bebas dari pernyataan yang bersifat negatif ganda.
d. Kalimatnya bebas dari pernyataan yang mengacu pada masa lalu.
e. Kalimatnya bebas dari pernyataan yang faktual atau dapat diinterpretasikan sebagai fakta.
f. Kalimatnya bebas dari pernyataan yang dapat diinterpretasikan lebih dari satu cara.
g. Kalimatnya bebas dari pernyataan yang mungkin disetujui atau dikosongkan oleh hampir semua responden.
h. Setiap pernyataan hanya berisi satu gagasan secara lengkap.
i. Kalimatnya bebas dari pernyataan yang tidak pasti seperti semua, selalu, kadang-¬kadang, tidak satupun, tidak pernah.
j. Jangan banyak mempergunakan kata hanya, sekedar, semata-mata. Gunakanlah seperlunya.

3. Bahasa
a. Bahasa soal harus komunikatif dan sesuai dengan jenjang pendidikan peserta didik atau responden.
b. Soal harus menggunakan bahasa Indonesia baku.
c. Soal tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu.


Referensi
Balitbang Dikbud. 1994. Bahan Penataran Pengujian Pendidikan. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Sistem Pengujian.

Boyle, James dan Stephen Fisher. 2007. Educational Testing, A Competence-Based Approach. London: Blackwell.

Ebel, Robert L. dan Frisbie, David A. 1991. Essentials of Education Measurement. New Jersey: Prentice Hall.

Harris, Michael dan Paul McCann. 1994. Assessment. Handbooks for the English Classroom. London: Macmillan.

Linn, Robert L. and Gronlund, Norman E. 1995. Measurement and Assessment in Teaching. (Seventh Edition). Ohio: Prentice-Hall, Inc.

Messick, Samuel. 1993. “Validity”, Educational Measurement, Third Edition, ed. Robert L. Linn. New York: American Council on Education and Macmillan Publishing Company, A Division of Macmillan, Inc.

Rust, J. and Golombok, S. (2000) Modern Psychometrics: The Science of Psychological Assessment. Second Edition. London: Routledge.

Salvia, J. dan Ysseldyke, J.E. 2004. Assessment in Special and Inclusive Education. Ninth Edition. Boston: Houghton Miffl in Company.


Semoga postingan kali ini bermanfaat bagi kita semua. Amien.

Minggu, 29 September 2013

Dimensions of Social Sciences Research


          Dimensions of Social Sciences Research
 

 Written by Johann Mouton in Basic Concepts in the Methodology of the Social Sciences. 1996. Human Sciences Research Council. South Africa. pp. 7-15.



In terms of this model research in the social sciences would be defined as follows:
Social sciences research is a collaborative human activity in which social reality is studied objectively with the aim of gaining a valid understanding of it.

The following dimensions of research in the social sciences are emphasized in this definition
a. the sociological dimension: scientific research is a joint or collaborative activity;

b. the ontological dimension: research in the social sciences is always directed at an aspect or aspects of social reality;

c. the ideological dimension: as a human activity, research in the social sciences is intentional and goal-directed, its main aim being the understanding of phenomena;

d. the epistemological dimension: the aim is not merely to understand phenomena, but rather to provide a valid and reliable understanding of reality;

e. the methodological dimension: research in the social sciences may be regarded as objective by virtue of its being critical, balanced, unbiased,systematic, and controllable.

Research can be discussed from various perspectives.
a. From the sociological perspective, one is interested in highlighting the social nature of research as a typical human activity — as praxis. The sociological dimension of research cannot be ignored in any analysis of the process of research. In this book we shall refer to sociological factors where we consider that they ought to be taken into account because of their effect on methodological considerations.

b. The ontologial dimension emphasizes that research always has an object — be it empirical or non-empirical. The variety of perspectives of man and society,associated with divergent domain assumptions, leads to a situation where one cannot talk about the research domain of the social sciences. The content of the ontological dimension of research in the social sciences must, as is the case in the other dimensions, be regarded as variable.

c. When one looks at research within the ideological perspective, one wants to stress that research is goal-driven and purposive. Research is not a mechanical or merely automatic process, but is directed towards specifically human goals of understanding and gaining insight and explanation.

d. The epistemological dimension focuses on the fact that this goal of understanding or gaining insight should always be further clarified in terms of what would be regarded as “proper” or “good” understanding. Traditionally ideals of truth and wisdom have been pursued by scientists. More recently other ideals — problem solving, verisimilitude, validity, and so on — have been put forward.The primary aim of research in the social sciences is to generate valid findings, i.e. that the findings should approximate reality as closely as possible.

e. Finally, the methodological dimension of research refers to the ways in which these various ideals may be attained. It also refers to such features as the systematic and methodical nature of research and why such a high premium is placed on being critical and balanced in the process of research.