Pages

Subscribe:

Jumat, 01 Juni 2012

DAULAH ABBASIYAH


  1. Pembangunan Daulah Bani Abbas
Pemerintahan Daulah Abbasiyah merupakan kelanjutan dari pemerintahan Daulah Bani Umayah yang telah runtuh di Damaskus. Dinamakan kekhalifahan Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa daulah ini adalah keturunan Abbas, paman Nabi Muhammad saw. Keluarga Abbas, Imam Muhammad bin Ali berpendapat bahwa pemindahan kekuasaan dari keluarga yang satu ke keluarga yang lain harus memiliki kesiapan jiwa dan semangat rakyat. Dia menyadari bahwa perubahan secara tiba-tiba, bisa berakhir dengan kegagalan. Oleh karena itu, sangat diperlukan pemikiran yang dapat memperhitungkan keadaan untuk melancarkan propaganda (gerakan yang menentang pemerintahan untuk memperoleh kekuasaan) dengan atas nama orang yang terpilih dari keluarga Nabi Muhammad.

Muhammad bin Ali meminta kepada masyarakat pendukungnya untuk membantu keluarga Nabi. Propaganda ini dilakukan dengan cara yang sangat cermat, sehingga banyak tokoh masyarakat dan tokoh agama yang tertarik dengan propaganda itu.

Muhammad bin Ali menjadikan kotaKufah dan Khurasan sebagai pusat kekuatan penyebaran propagandanya. Dua kota ini dianggap sangat strategis sebagai benteng pertahanan bila terjadi serangan dari Bani Umayah. Di dalam kedua kotaitu banyak bermukim masyarakat Islam yang bukan Arab. Mereka sangat tidak puas terhadap kebijakansanaan pemerintahan Bani Umayah.

Ketidakpuasan masyarakat Muslim yang bukan Arab (‘Ajam) sangat besar pengaruhnya dalam proses kehancuran Daulah Umayah, dan jumlah mereka semakin banyak.

Semula propaganda yang dilakukan Muhammad bin Ali, tidak memakai dan menonjolkan nama Bani Abbas, tetapi menggunakan Bani Hasyim, dengan maksud untuk mencegah perpecahan antara orang syi'ah pengikut Ali dan yang mendukung Bani Abbas, karena kedua golongan itu masih termasuk keluarga Bani Hasyim. Dengan siasat demikian itu, maka propagandanya mendapatkan simpati sangat besar dari berbagai kalangan.

Untuk melaksanakan propaganda itu mereka mengangkat dua belas orang propagandis terkenal, yang disebar ke daerah-daerah Khurasan, Kufah, Irak dan bahkan sampak ke Makkah. Dalam usaha menyebarkan propaganda itu, dijelaskan tujuan mereka, yaitu untuk menuntut keadilan dan kebijaksanaan dan pemerintahan Daulah Bani Umayah di Damaskus.

Di antara propagandis terkenal yang berhasil menarik banyak masyarakat, ialah Abu Muslim Al-Khurasani. Dengan tekad kuat dan kerja keras, ia dapat meyakinkan rakyat Marwa, sehingga mereka berada di pihak Bani Abbas. Setelah itu, Abu Muslim menyambut baiat (Sumpah Setia) rakyat Marwa tersebut. Kemudian ia melanjutkan usahanya ke daerah Khurasan dan daerah-daerah lain di sekitarnya. Di setiap daerah dibentuk perwakilan, sehingga berdatangan orang-orang yang menyatakan sumpah setia kepada keluarga Bani Abbas.

Usaha propaganda yang dilakukan Abu Muslim al-Khurasani membawa hasil yang sangat memuaskan. Banyak masyarakat mendukung gerakan propaganda itu.

Melihat perkembangan politik yang tidak menguntungkan pihak Muawiyah, akhirnya Marwan bin Hakam berusaha menyelamatkan diri dari kejaran massa yang sedang mengamuk, menuntut digulingkannya pemerintahan Daulah Bani Umayah. Dengan terbunuhnya Marwan bin Hakam di Fustat, Mesir tahun 132 H / 750 M, resmilah keluarga Abbas menjadi penguasa baru.

Dinasti ini berkuasa selama lebih kurang lima abad, mulai dari tahun132-656 H / 750-1528. Pusat pemerintahannya bertempat di kotaBagdad. Di antara para tokoh pendiri Daulah Abbasiyah ialah

• Muhammad bin Ali

• Ibrahim bin Muhammad bin Ali

• Abul Abbas As-Shafah

• Abu Ja'far Al-Mansur

• Abu Muslim Al-Khurasani


2. Khalifah Bani Abbas yang Terkenal


Seperti yang telah dijelaskan tadi, bahwa Daulah Bani Abbasiyah berkuasa lebih kurang limaabad, dan dipimpin oleh sekitar 37 orang khalifah. Di antara ke-37 orang khalifah yang terkenal karena kemajuan yang dicapai pada masa pemerintahannya dalam berbagai bidang, seperti bidang teknologi, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya adalah sebagai berikut

Abu Ja'far Al-Mansur (136-158 H / 754-775 M)

Abu Ja'far Al-Mansur adalah putra Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib. Ia adalah saudara Ibrahim Al-Imam dan As-Shafah. Ketiganya sebagai tokoh pendiri Daulah Bani Abbas. Abu ja'far Al-Mansur termasuk salah seorang pendiri Daulah Bani Abbasiyah yang sebenarnya, karena dialah yang sebenarnya untuk pertama kali yang membuat dan mengatur politik pemerintahan Daulah itu. Jalur-jalur administra pemerintahan mulai dari pusat sampai kedaerah ditata dengan rapi. Pada waktu itu terjadi kerja sama yang baik antara Kepala Qadhi, Kepala Polisi Rahasia, Kepala Jawatan Pajak, dan Kepala Jawatan Pos. Dengan demikian, maka pemerintahan pada masa Khalifah Abu Ja'far Al-Mansur menjadi tertib. Hal ini sangat berpengaruh terhadap system kehidupan masyrakat yang berada di bawah kekuasaan pemerintahan Daulah Abbasiyah.

Abu Ja'far Al-Mansur sangat besar jasanya dalam mengembangkan kebudayaan dan peradaban islam. Ia adalah seorang yang cinta ilmu pengetahuan. Dengan kekuasaan dan hartanya dia member dorogan dan kesempatan yang luas bagi para cendekiawan untuk mengembangkan riset ilmu pengetahuan. Buku-buku yang dihasilkan oleh bangsa Romawi telah terlupakan diperintahkan untuk di kumpulkan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Ilmu Falak dan Filsafat mulai digali dan dikembangkan pada waktu itu.

Langkah-langkah yang dilakukan oleh Khalifah Abu Ja'far Al-mansur untuk memajukan Daulah Abbasiyah antara lain ialah

• Penertiban Pemerintahan

Dalam usaha memperkuat kedudukan dan kekuasaan Daulah Abbasiyah, Abu Ja'far Al-Mansur mulai mengadakan penertiban dalam bidang administrasi dan mengadakan kerja sama di antara para pejabat pemerintahan dengan system kerja sama lintas sektoral, seperti kerja sama antara Qadhi dengan Kepla Polisi Rahasia, dengan Kepala Pajak, dan dengan Kepala Jawatan Pos.

• Pembinaan Keamanaan dan Stabilitas Dalam Negeri

Untuk melaksanakan pembinaan dan stabilitas pemerintahan dalam negeri, Khalifah Abu Ja'far Al-Mansur mengadakan pengamanan terhadap beberapa kelompok yang dianggapnya berbahaya dan mengganggu stabilitas dalam negeri. Di antara kelompok yang di anggap berbahaya adalah kelompok Abdullah bin Ali, kelompok Abu Muslim Al-Khurasani dan Kaum Alawiyin.

• Pembinaan Politik Luar Negeri

Politik luar negeri Khalifah Abu Ja'far Al-Mansur, yaitu dengan mengadakan serangan terhadap Byzantium, penaklukan ke Afrika Utara dan mengadakan perjanjian kerja sama dengan Raja Peppin dari bangsa Frank. Kerja sama ini dilakukan untuk menghalangi melebarnya kekuasaan Bani Umayah di Andalusia yang dipimpin oleh Abdurrahman Al-Dakhil.

Harun Al-Rasyid (170-193 H / 786-809 M)

Harun Al-Rasyid dilahirkan pada bulan Februari 763 M. Ayahnya bernama Al-Mahdi dan ibunya Khaizurran. Waktu kecil ia dididik oleh Yahya bin Khalid Al-Barmaki. Ia menjadi khalifah bulan September 786 M pada usia 23 tahun. Ia menggantikan kedudukan saudaranya Musa Al-Hadi. Sewaktu menjadi khalifah ia dibantu oleh Yahya bin Khalid dan keempat putranya.

Harun Al-Rasyid adalah khalifah ke-6 dari Daulah Abbasiyah. Ia dikenal sebagai penguasa terbesar di dunia pada waktu itu. Ia seorang yang taat beragama, saleh dan dermawan. Ia sering turun ke jalan-jalan di kota Bagdad pada malam hari untuk mengadakan inspeksi melihat keadaan yang sebenarnya untuk membantu kaum yang lemah dan memperbaiki keadaan.

Masa pemerintahan Harun Al-Rasyid adalah masa keemasan Daulah Abbasiyah. Sebab itu, Bagdad menjadi mecusuar kotaimpian seribu satu malam yang tidak ada tandingannya di dunia pada abad pertengahan. Di samping itu, keadilan dan kesejahteraan sangat diperhatikan dan selalu diusahakan secara merata.

Wilayah kekuasaanya terbentang luas dari Afrika Utara sampai Hindu Kush, India. Kekuatan militernya sangat dikagumi oleh lawan. Hal ini terbukti waktu mengadakan serangan balasan ke Byzantiumyang telah mengingkari perjanjian yang telah disepakati sebanyak 6 kali. Peperangan ini banyak menewaskan tentara Byzantium, kota Matarah dan Enzyra dapat direbut, Cyprus dapat ditaklukkan kembali dan Crette mendapat gempuran yang sangat dahsyat dan akhirnya Byzantium minta damai. Permohonan itu dikabulkan Harun Al-Rasyid dengan sebuah perjanjian, bahwa Byzantium harus membayar upeti yang telah ditentukan sebagaimana perjanjian terdahulu. Hal ini terjadi pada tahun 791 M. Dalam serangan ini, seluruh Byzantiumtermasuk ibu kotanya Konstatinopel dapat ditaklukkan. Keagungan sejati Khalifah Harun Al-Rasyid terletak pada sikap politik damainya yang selalu terlihat. Hal itu sangat besar pengaruhnya bagi kesejahteraan rakyatnya.

Ia mengumpulkan kaum cendikiawan dan para bijak yang mengatur pemerintahan Daulah Abbaiyah. Perdana Menterinya, Yahya Barmaki dengan kasih sayang disebutnya “ayah”, serta keempat anaknya terutama Ja'far dan Fazal, merupakan tokoh penting dalam pemerintahan Harun Al-Rasyid, sehingga masa pemerintahannya dikenal dalam sejarah dunia sebagai masa kejayaan dunia Islam.

Keadaan Daulah Abbasiyah yang aman membuat para pedagang, saudagar, kaum terpelajar, dan masyarakat umum dapat melakukan perjalanan di seluruh wilayahnya yang sangat luas itu, membuktikan juga betapa baik dan betapa kuatnya pemerintahan Harun Al-Rasyid. Masjid, Perguruan Tinggi, Sekolah, Rumah Sakit, dan sebagainya didirikan. Semua itu bertujuan unutk kesejahteraan masyarakatnya.

Ibu Harun Al-Rasyid Khaizuran dan isterinya Zubaidah sangat besar sekali jasanya bagi kesejahteraan Negara dan Rakyat. Waktu berkunjung ke kota Makkah dan Madinah yang pada waktu itu rakyatnya sangat menderita kekurangan air, Zubaidah mengeluarkan uangnya sendiri untuk membangun saluran air yang dikenal dengan sebutan “ Terusan Zubaidah” . Saluran itu merupakan bantuan yang sangat penting artinya bagi penduduk kotasuci tersebut.

Harun Al-Rasyid sama dengan Abu Ja'far Al-Mansur. Keduanya orang yang sangat cinta ilmu pengetahuan. Khalifah ini melarang kepada tentaranya untuk merusak kitab apapun yang ditemukan dalam medanperang. Ia sangat giat dalam usaha menterjemahkan buku-buku asing ke dalam bahasa Arab. Dewan penerjemah didirikan secara resmi dan dipimpin oleh seorang Anggota Majelis Ulama yang bernama Yuhana bin Musawaih.

Kitab-kitab kedokteran dari Yunani, kitab-kitab pengetahuan dari Euclides dan lain-lain telah deterjemahkan ke dalam bahasa Arab yang pada saat itu sudah menjdai bahasa pengantar dari berbagai suku bangsa yang telah memeluk agama Islam dan sekaligus sebagai ilmu pengetahuan.

Ketika Harun Al-Rasyid berkunjuing ke Khurasan, ia menderita sakit. Setelah sekian lama mengalami penderitaan, akhirnya ia meninggal dunia pada tanggal 4 Jumadi al-Tsani 193 H / 809 M. Setelah menjadi khalifah lebih kurang 23 tahun 6 bulan.


Abdullah Al-Makmun (198-218 H / 809-833 M)

Abdullah Al-Makmun dilahirkan pada tanggal 15 Rabi'ul Awal 170 H / 786 M, bertepatan dengan wafat kakeknya Musa Al-Hadi dan naik tahta ayahnya, Harun Al-Rasyid. Al-Makmun temasuk putra yang jenius, sebelum usia 5 tahun ia dididik agama dan membaca Al-Qur'an oleh dua orang ahli yang terkenal bernama Kasai Nahvi dan Yazidi.

Untuk belajar Hadits, Harun Al-Rasyid menyerahkan kedua puteranya Al-Makmun dan Al-Amin kepada Imam Malik di Madinah. Kedua putranya itu belajar kitab Al-Muwattha, karangan Imam yang sangat singkat, Al-Makmun telah menguasai Ilmu-ilmu kesusateraan, tata Negara, hokum, hadits, falsafah, astronomi, dan berbagai ilmu pengetahuaan lainnya. Ia hafal Al-Qur'an begitu juga menafsirkannya.

Al-Makmun menjadi khalifah setelah saudaranya Al-Amin meninggal dunia, sebagai khalifah yang ke-8 dari Daulah Abbasiyah, Iaterkenal sebagai seorang administrator yang termasyhur karena kebijaksanaan dan kesabarannya. Ia mencurahkan perhatiannya yang besar pada tugas reorganisasi pemerintahan ketika mengalami kemunduran selama pemerintahan Al-Amin. Ia melakukan peninjauan pengurus rumah tangga istana. Ia mengangkat para administrator yang ahli unuk menjadi gubernur di berbagai propinsi dan terus mengawasi langkah mereka.

Al-Makmun membentuk sebuah Badan Negara yang anggotanya terdiri dari wakil semua kalangan masyarakat. Tidak ada perbedaan kelas atau agama, pelayanan masyarakatnya terbuka untuk siapa saja. Parawakil rakyat mendapat kebebasan penuh dalam mengemukakan pendapat dan bebas berdiskusi di depan khalifah.

Al-Makmun mempunya banyak dinas rahasia baik di dalam negeri, maupun di luar negeri terutama di wilayah jajahannya Byzantium. Dengan demikian ia banyak mengetahui berbagai kejadian. Al-makmun terkenal sebagai seorang khalifah yang bijaksana dan pemaaf. Ia sering kali memberikan ampunan kepada para pemberontak, seperti yang dilakukannya terhadap para pemberontak Yaman. Ibrahim, pamannya pernah mengumumkan dirinya sebagai khalifah di Bagdad, sewaktu Al-Makmun berada di Marwa. Setelah ditangkap Ibrahim diampuni dan diberikan kebebasan hidup.

Sikapnya terhadap masyarakat yang bukan agama Islam, sangat toleran sekali. Mereka mendapat hak dan kewajiban yang sama dalam pembelaan Negara. Mereka diberikan kebebasan mengeluarkan pendapat. Ia membentuk sebuah Dewan Negara yang anggotanya terdiri dari berbagai agama, Islam, Kristen, Yahudi, dan Zoroater. Bahkan Sejumlah non muslim pernah menduduki jabatan penting seperti Gibril bin Bakhtishu, seorang sarjana Kristen yang posisi penting di kekhalifahannya.

Wilayah kekuasaan Al-Makmun sangat luas sekali, membentang dari pantai Atlantik di Barat hingga ke Tembok Besar Cina di Timur. Usaha lain yang dilakukan Khalifah Al-Makmun semasa pemerintahannya adalah mendirikan Bait al-Himkah. Untuk menghindari terjadinya perselisihan antara sesama umat Islam(Khilafiyah), ia mengadakan Majlis Munadzarah untuk mendiskusikan persoalan agama yang dianggap sukar dipecahkan. Hasil diskusi itu kemudian disebarkan kepada masyarakat luas untuk diketahui dan kemudian mengamalkannya sesuai dengan hukum Islam.


3. Kemajuan Dalam Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi


Masa pemerintahan Daulah Abbasiyah merupakan masa kejayaan Islam dalam berbagai bidang, khususnya bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada zaman ini umat Islam telah banyak melakukan kajian kritis tentang ilmu pengetahuan, sehingga ilmu pengetahuan baik aqli (rasional) ataupun yang naqli mengalami kemajuan dengan pesatnya.

Pada zaman pemerintahan Daulah Abasiyah, proses pengalihan ilmu pengetahuan dilakukan dengan cara penerjemahan berbagai buku karangan bangsa-bangsa terdahulu, seperti buku-buku karya bangsa-bangsa Yunani, Romawi dan Persia, serta sumber dari berbagai naskah yang ada di kawasan Timur Tengah dan Afrika, seperti Mesopotamia dan Mesir.

Di antara banyak ahli yang berperan dalam proses perkembangan ilmu pengetahuan adalah kelompok Mawali atau orang-orang Non Arab, seperti orang-orang Persia. Pada masa itu, pusat-pusat kajian ilmiah bertempat di masjid-masjid, misalnya Masjid Basrah. Di masjid ini terdapat kelompok studi yang disebut Halaqat Al Jadl, halaqat Al Fiqh, halaqat Al-Tafsir wal Hadits, halaqat Al-Riyadiyat, halaqat lil Syi'ri wal adab, dan lain-lain. Banyak orang dari berbagai suku bangsa yang dating ke pertemuan itu. Dengan demikian berkembanglah kebudayaan dan ilmu pengetahuan dalam Islam.

Pada permulaan Daulah Abbasiyah, belum terdapat pusat-pusat pendidikan formal, seperti sekolah-sekolah, yang ada hanya baru lembaga-lembaga non formal yang disebut “ Ma'ahid”. Baru pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid didirikan lembaga pendidikan formal seperti “ Darul Hikmah” yang kemudian dilanjutkan dan disempurnakan oleh Al-Makmun. Dari lembaga inilah banyak melahirkan para sarjana dan para ahli ilmu pengetahuan yang membawa kejayaan Daulah Abbasiyah.

Di antara ilmu pengethuan yang berkembang pesat pada masa itu ialah

1. Ilmu tafsir

Pekembangan ilmu tafsir pada masa pemerintahan daulah Abbasiyah mengalami kemajuan dengan pesat. Tafsir pada zaman ini terdiri dari Tafsir bil Ma'tsur, yaitu Al-Qur'an yang ditafsirkan dengan hadits-hadits Nabi dan Tafsir bil Ra'yi, yaitu penafsiran Al-Qur'an dengan menggunakan akal pikiran.

Di antara para ahli Tafsir bil Ma'tsur adalah

• Ibnu Jarir al-Thabary

• Ibnu “Athiyah Al-Andalusy,

• As Sudai yang mendasarkan tafsirnya kepada Ibnu Abbas dan Ibnu Mas'ud.

• Muqatil bin Sulaiman yang tafsirannya terpengaruh oleh kitab Taurat.

• Muhammad bin Ishak, dalam tafsirnya banyak mengutip cerita israiliyat.


Adapun para ahli tafsir bil Ra'yi antara lain ialah

• Abu Bakar Asam (Mu'tazilah),

• Abu Muslim Muhammad bin Bahr Isfahany (Mu'tazilah),

• Ibnu Jaru Al-Asady (Mu'tazillah),

• Abu Yunus Abdussalam (Mu'tazillah).

2. Ilmu Hadits

Hadits merupakan sumber hukum Islam kedua setelah Al-Qur'an pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyah muncullah ahli-ahli hadits yang ternama, antara lain

• Imam Bukhari, yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Abil Hasan di Bagdad, karyanya antara lain Shahih Bukary (Al-Jamius Shahih).

• Imam Muslim, yaitu Imam Abu Muslim bin Al Hajjaj Al-Qushairy Al-Naishabury, wafat 261 H di Naishabury,. Karyanya yang terkenal adalah Shahih Muslim (Al-Jamius Shahih).

• Ibnu Majah, karyanya Sunan Ibnu Majah.

• Abu Daud, karyanya Sunan Abu Daud.

• Al- Nasai, karyanya Sunan Al-Nasai, dan lain-lain.

3. Ilmu Kalam

Ilmu kalam lahir karena dua sebab

• Karena musuh Islam melumpuhakan Islam dengan mempergunakan filsafat pula.

• Hampir semua masalah, termasuk masalah agama, telah berkisar pada polar as kepada pola akal dan ilmu.

Di antara pelopor dan ahli ilmu kalam ialah : Washil bin Atha, Abu Huzail Al-Allaf, Ad-Dhaham, Abul Hasan Al-Asy'ary dan Imam Ghazali.

4. Ilmu Tasawuf

Ilmu tasawuf yaitu ilmu syariat. Inti ajarannya ialah tekun beribadah dengan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, meninggalkan atau menjauhkan diri dari kesenangan dan perhiasan dunia.

Di antara para ahli dan ulama tasawuf ialah

• Al-Qushairy, yaitu Abu Kasim Abdul Karim bin Hawazin Al Qushairy, wafat tahun 465 H. Ia alim dalam ilmu fiqih, hadits, adab, syair dan lain-lain. Karyanya yang terkenal ialah Al-Risalatul Qushairiyah .

• Imam Ghazali, yaitu Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali lahir di Thus tahun 1058 M dan wafat tahun 1111 M. Karyanya yang terkenal ialah Ihya Ulumuddin.

5. Ilmu Bahasa

Ilmu bahasa ialah Nahwu, Sharaf, Bayan, Badi', Arudl, dan lain-lain. Ilmu bahasa pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyah berkembang dengan pesat, karena baasa Arab yang semakin berkembang memerlukan ilmu bahasa yang menyelurah. Kota Basrah dan Kufah merupakan pusat pertumbuhan dan kegiatan ilmu bahasa (Ilmu Lughah).

Di antara para ahli ilmu bahasa ialah

• Sibawaih, wafat tahun 183 H. Karyanya terdiri dari dua jilid setebal 1000 halaman.

• Al-Kisai, wafat tahun 198 H.

• Abu Zakaria Al-farra, wafat tahun 208 H. Kitab Nahwunya terdiri dari 6000 halaman.


6. Ilmu Fiqih

Para fuqaha yang terkenal antara lain ialah

• Imam Abu Hanifah, karyanya fiqhu Akbar, Al-Alim Wal Mutaan, dan lain-lain.

• Imam Malik, dilahirkan di Madinah tahun 93 H dan wafat tahun 179 M. Karyanya yang terkenal antara lain ialah Kitab Al-Muwatha.

• Imam Syafi'I, Lahir di Khaza Propinsi Askolah tahun 150 H/767 M, dan wafat di Mesir tahun 820 M/204 H. Di antara karyanya yang tekenal ialah Al Um, Ushul Fiqh.

• Imam Ahmad bin Hanbal, lahir di Bagdadtahun 164 H/780 M, dan wafat tahun 241 H/855 M. Karyanya yang terkenal antara lain ialah : Musnad, yang memuat 2800 sampai 2900 hadits Nabi.

Di samping ilmu-ilmu Naqli yang mengalami kemajuan pesat pada masa kejayaan Islam di dalam kekuasaan Daulah Abbasiyah, ikut berkembang pula ilmu-ilmu Aqli (rasional). Di antara ilmu-ilmu Aqli yang berkembang pada masa itu ialah

1. Ilmu Kedokteran

Ilmu kedokteran mulai berkembang dengan pesat pada masa akhir Daulah Abbasiyah I, sedangkan puncaknya pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyah II, III dan IV.

Daulah Abbsiyah telah melahirkan banyak dokter kenamaan. Banyak dokter asing yang dipakai untuk praktek dan guru, begitu juga rumah sakit besar dan sekolah tinggi kedokteran banyak sekali didirikan. Di antara para dokter yang terkenal ialah

• Abu Zakaria Yuhana bin Masiwaih, seorang ahli farmasi di rumah sakit Yundishapur

• Sabur bin Sahal, direktur rumah sakit Yundishapur.

• Abu Zakaria Al-Razy kepala para dokter rumah sakit Bagdad.

• Ibnu Sina, karyanya yang terkenal adalah al-Qanun fi al Thibb .


2. Ilmu Perbintangan

Kaum Muslimin pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyah mempunyai modal yang besar dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Mereka mengkaji dan menganalisa berbagai aliran ilmu perbintangan dari berbagai suku bangsa, seperti bangsa Yunani, India, Persia, Kaldan, dan ilmu falak Arab Jahiliyah. Ilmu bintang memegang peranan penting dalam menentukan garis politik para khalifah dan Amir.

Di antara para ahli ilmu perbintangan yang terkenal pada waktu itu ialah

• Abu Ma'syur Al-Falaky, wafat tahun 272 H. Di antara karyanya yang terkenal ialah Isbatul Ulum dan Haiatul Falak.

• Jabir Al-Batany, wafat tahun 319 H. Ia adalah pencipta alat peneropong bintang pertama. Karyanya yang terkenal ialah Kitabu Ma'rifati Mathliil Buruj Arbail Falak.

• Raihan Al-Biruny, wafat tahun 440 H. Di antara karyanya yang tekenal ialah Al tafhim liawaili Shina ‘atit Tanjim.

3. Ilmu Pasti (Riyadhiyat)

Di antara ara sarjana ilmu pasti Islam yang terkenal pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyah ialah

• Tsabit bin Qurrah al-Hirany (211-288 H). Karyanya yang terkenal antara lain ialah Hisabul ahliyah.

• Abdul Wafa Muhammad bin Ismail bin Abbas, lahir di Naishabur tahun 328 H. Karyanya yang terkenal antara lain ialah Ma Yahtau Ilaihil Ummat Wal Kuttab min Shinaatil Hisab.

• Sinan Ali Muhammad bin Hasan


Farmasi dan Kimia

Di antara para ahli farmasi dan kimia masa pemerintahan Daulah Abbsiyah ialah Ibnu Baithar. Karyanya yang terkenal ialah Al-Mughni (tentang obat-obatan), Jami' Mufradtil Adwiyah Wa Aghziyah (tentang obat-obatan dan makanan atau gizi), dan Mizanu Thabib.


Filsafat

Setelah kitab-kitab filsafat Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Arab pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid dan Al Makmu, kaum muslimin sibuk mempelajari ilmu filsafat, bahkan menafsirkan dan mengadakan perubahan serta perbaikan sesuai dengan ajaran Islam. Oleh sebab itu, lahirlah filsafat Islam yang akhirnya menjadi bintangnya dunia filsafat.


Di antara para filosuf terkenal pada masa itu ialah

• Abi Ishak Al-Kindy, seorang filosuf Arab, Karyanya tentang filsafat, ilmu mantiq, handasah hisab, music, nujum dan lain-lain sejumlah 231 kitab.

• Abu Nashr Al-Faraby. Karyanya sebanyak 12 buah.

Ibnu Sina, Ia menghidupkan jejak filsafat Pleno dan Aristoteles.

• Ibnu Bajjah,

• Ibnu Thufail,

• Ibnu Rusyd, dan

• A-Abhnary.


Ilmu Sejarah

Dalam masa pemerintahan daulah Abbasiyah telah disusun buku-buku sejarah dalam berbagai bidang, meliputi manusia dan peristiwa dan lain-lain. Di antara para sejarawan terkenal pada masa itu ialah

• Abu Ismail Al-Azdy, Karyanya ialah Futuhus Syam.

• Al-Waqidy, Di antara karyanya yang terkenal ialah : Kitab Al-Magazy , Fath Afrika , Fathul Ajam , Fath Misr Wal Iskandairiyah .

• Ibnu sa'ad, Karyanya antara lain ialah At Thabaqatul Kubra.

• Ibnu Hisyam, Karyanya yang terkenal antara lain ialah Sirah Ibnu Hisyam .


Ilmu Geografi

Di antara para pengarang ilmu geografi pada masa pemerintahan Daulah Abbsiyah ialah

• Ibnu Khardazabah. Karyanya yang terkenal antara lain adalah Kitabul Masalik wal Mamalik .

• Ibnul Haik. Di antara karyanya yang terkenal ialah Kitabusyifati Jaziratil Arab dan Kitabul Iklim

• Ibnu Fadlan. Karyanya yang terkenal ialah Rihlah Ibnu Fadlan .


Iimu Sastra

Di antara para penyair yang terkenal pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyah ialah

• Abu Nuwas (145 – 198 H).

• Abul Atiyah (130 – 211 H).

• Abu Tanam (wafat 232 H).

• Al-Matannabby (303 – 363 H).

• Ibnu Hani (326 – 363).

Kesimpulan

Pemerintahan Daulah Abbasiyah merupakan kelanjutan dari pemerintahan Daulah Bani Umayah yang telah runtuh di Damaskus. Dinamakan kekhalifahan Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa daulah ini adalah keturunan Abbas, paman Nabi Muhammad saw. Dinasti ini berkuasa selama lebih kurang lima abad, mulai dari tahun132-656 H / 750-1528. Pusat pemerintahannya bertempat di kota Bagdad. Di antara para tokoh pendiri Daulah Abbasiyah ialah

Muhammad bin Ali, Ibrahim bin Muhammad bin Ali, Abul Abbas As-Shafah, Abu Ja'far Al-Mansur, dan Abu Muslim Al-Khurasani

Selama dinasti ini berkuasa, pemerintah Bani Abbasiyah terbagi menjadi 5 periode:



  1. Periode Pertama (132 H / 750 M – 232 H / 847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama.

  1. Periode Kedua (232 H / 847 M – 334 H / 945 M), disebut masa pengaruh Turki pertama.

  1. Periode Ketiga (334 H / 945 M – 447 H / 1055 M), disebut masa pengaruh Persia kedua.

  1. Periode Keempat (447 H / 1055 M – 590 H / 1194 M), disebut masa pengaruh Turki kedua.

  1. Periode Kelima (590 H / 1194 M – 656 H / 1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota baghdad.




Pada periode pertama, pemerintah abbasiyah mencapai masa keemasan. Secara politis, para khalifah betul-betul merupakan tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuatan politik dan agama. Disisi lain, periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam islam. Tidak hanya itu saja, kemakmuran masyarakat juga mencapai tingkat tertinggi dimasa ini.

Adapun khalifah Bani Abbasiyah yang terkenal ialah

Abu Ja'far Al-Mansur

Harun Al-Rasyid

Abdullah Al-Makmun

Pada permulaan Daulah Abbasiyah, belum terdapat pusat-pusat pendidikan formal, seperti sekolah-sekolah, yang ada hanya baru lembaga-lembaga non-formal yang disebut “ Ma'ahid”. Baru pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid didirikan lembaga pendidikan formal seperti “ Darul Hikmah” yang kemudian dilanjutkan dan disempurnakan oleh Al-Makmun. Dari lembaga inilah banyak melahirkan para sarjana dan para ahli ilmu pengetahuan yang membawa kejayaan Daulah Abbasiyah. Di antara ilmu pengethuan yang berkembang pesat pada masa itu ialah Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, Ilmu Kalam, Ilmu Tasawuf, Ilmu Bahasa, dan Ilmu Fiqih. Selain itu ikut pula berkembang ilmu-ilmu Aqli (rasional). Di antara ilmu-ilmu Aqli yang berkembang pada masa itu ialah Ilmu Kedokteran, Ilmu Perbintangan, Ilmu Pasti, Farmasi dan Kimia, Filsafat, Ilmu Sejarah, Ilmu Geografi, dan Ilmu Sastra.


Daftar Pustaka

Hamka, Sejarah Umat Islam , Jakarta. Bulan Bintang, 2004.

Hasan, Ibahim Hasan , Sejarah dan Kebudayaan Islam , Yogya, Kota Kembang, 2000.

Hasymy, A. Sejarah Kebudayaan Islam , Jakarta, Bulan Bintang, 2000.

Yatim, Badry, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2000.

Hitti, PK History of the Arab , ed.9. New York. Collear by Club. 1966.

Yatim, Badry, Sejarah Peradaban Islam , Jakarta, Rajawali perss, 1993

www. Hitsuke.blogspot.com

Context or Grammatical Clues


  1. Context or Grammatical Clues
In reading a text / an article, or even a book, the students must be know about the clues that involved in the sentences or paragraphs to make them understanding about the text that they read. And this paper, the clues that want to discuss are about context / grammatical clues.

Context clues are the due in the text to help the reader understands the text. There are many types of context clues,[1]such as definition, example, cause and effect, contrast, restatement, and modifier.
  1. Definition
Many times a writer defines a word, directly / indirectly, immediately following its use. The writer of the reading may define a word directly by giving a brief definition or providing a synonym (a word that has the same meaning). The words or phrases that often used in defining are means, is/are, refer to, can be defines, can be called, and called.[2]
Here are some examples ;[3]
Signal Clues
Sample Sentence
Means
A democracy means that all the people from the government.
Is
A protein is a positively changed particle in the nucleus of an atom.
Defines as
The denovement is defined as the climax of a story.
Are
Alginos are an animal (or a person) that is born without any colour.

  1. Example
Example is the clue that help to explain or clarify a word. It is using by “for instance, Such as, for example, like, etc. some etc are once, in one casety, one time.[4]Such in this sentence, students can be divides according to many criteria, for example random sample, ability levels, friendship and interest.”[5]
Look some examples below;[6]
Signal Words
Sample Sentences
Such as
Many animals have mottled coats, such as the leopard, ocelot, and the giraffe.
For instance
Some animals are omnivores. Bears, for instance, eat whatever meat or plants they can find.
Once
He was Zealous. Once, he sat on the courthouse steps for a week to get the city to change a law.

  1. Cause and Effect
The dues that can be used to express cause and effect are because, consequently, so, due to, as a result, as such,  etc. [7]the punction of cause and effect is to explain some connections in a sentence about cause and effect. You can look same examples below.
-          Albinos are very in nature because they usually don’t live very long.
-          Adi Saputra is clever, as such he study hard.
-          Computer is very expensive, So we can’t afford to buy it.[8]
-          They were diligent as a result they passed an English grammar examination.
-          The smash – up was happened in thamrin ,St. It was due to the driver’s careless driving.

  1. Contrast
The writers tell to the reader that the author is switching to a different, opposite, or contrasting idea than previously discussed in a sentence or sentences.[9]The signal that can be used in expressing contrasting are but, although, on the other hand, however, eventhough, yet, etc. The used of the signals can be seen in some sentences :
    • She was quite efficacious in her job. By contrast, her brother wasn’t able to do his work.
    • Her behavior seemes religious, yet  she was sunctimenous.
    • Although I were ill, I went to school. [10]

  1. Restatement
The writer sometimes repeats the unfamiliar word by using some other words that are familiar to the readers. To express restatement the following expressions as signal : or, in other words, that is to say, that is, etc. the marks also can be used to express the restatement, between commas, parentheses, and dashes. [11] look the examples :
    • I have antediluvian car, or ancient car.
    • Most oriented societies valve discipline or self coulud
    • Students memorize information, in other words, they learn and  remember basic rules and facts.
    • The instructions also teach the culture (the ideas and beliefs of society)
    • She used a metronome , a small machine that ticked out the timing of the music,  as she practiced her violin.
    • His simple glance was a harbinger of danger that ia his eyes were signs foretelling bed things about me.


[1] Disadur oleh Eka Sustri Harida, diktat Reading I, (STAIN Padangsidimpuan, Perpustakaan) dari Zainil, Reading Theories, (Padang: Universitas Negeri Padang, 2003) p. 17
[2] Eka Sustri Harida, Diktat Reading I (Padangsidimpuan : Statte Collage for Islamic Studies, 2003-2009). P. 26.
[4] http://www.edu.find.com/english/context/clues/co.id/Monday, Nov. 2nd/2010/13.42, Padangmatinggi.
[5] Eka Sustri Harida, Op.cit, Page.26
[6] http://edu.wikipedia.client/contextclues/Monday, November 2 nd, 2010 / 12.50, Padangmatinggi.
[7] Eka Sustri Harida, Op.cit, page. 27
[8] Eka Sustri Harida, log. Cit.
[9] Ibid, page 43.
[10] John M. Echols & Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia, 1992), Page. 25
[11] Eka Sustri Harida, loc.cit, page 27

Asal Mula Kolam Sampuraga di Mandailing Natal


Alkisah, pada zaman dahulu kala di daerah Padang Bolak, hiduplah di sebuah gubuk reot seorang janda tua dengan seorang anak laki-lakinya yang bernama Sampuraga. Meskipun hidup miskin, mereka tetap saling menyayangi. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mereka setiap hari bekerja sebagai tenaga upahan di ladang milik orang lain. Keduanya sangat rajin bekerja dan jujur, sehingga banyak orang kaya yang suka kepada mereka.


Pada suatu siang, Sampuraga bersama majikannya beristirahat di bawah sebuah pohon yang rindang setelah bekerja sejak pagi. Sambil menikmati makan siang, mereka berbincang-bincang dalam suasana akrab. Seakan tidak ada jarak antara majikan dan buruh.

“Wahai, Sampuraga! Usiamu masih sangat muda. Kalau boleh saya menyarankan, sebaiknya kamu pergi ke sebuah negeri yang sangat subur dan peduduknya hidup makmur,” kata sang Majikan.

“Negeri manakah yang Tuan maksud?” tanya Sampuraga penasaran, “Negeri Mandailing namanya. Di sana, rata-rata penduduknya memiliki sawah dan ladang. Mereka juga sangat mudah mendapatkan uang dengan cara mendulang emas di sungai, karena tanah di sana memiliki kandungan emas,” jelas sang Majikan. Keterangan sang Majikan itu melambungkan impian Sampuraga.

“Sebenarnya, saya sudah lama bercita-cita ingin pergi merantau untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Saya ingin membahagiakan ibu saya,” kata Sampuraga dengan sungguh-sungguh.

“Cita-citamu sangat mulia, Sampuraga! Kamu memang anak yang berbakti” puji sang Majikan. Sepulang dari bekerja di ladang majikannya, Sampuraga kemudian mengutarakan keinginannya tersebut kepada ibunya.

“Bu, Raga ingin pergi merantau untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Raga ingin mengubah nasib kita yang sudah lama menderita ini,” kata Sampuraga kepada ibunya. “Ke manakah engkau akan pergi merantau, anakku?”, tanya ibunya.

“Ke negeri Mandailing, bu. Pemilik ladang itu yang memberitahu Raga bahwa penduduk di sanahidup makmur dan sejahterta, karena tanahnya sangat subur,” jelas Sampuraga kepada ibunya.

“Pergilah, anakku! Meskipun ibu sangat khawatir kita tidak bisa bertemu lagi, karena usia ibu sudah semakin tua, tapi ibu tidak memiliki alasan untuk melarangmu pergi. Ibu minta maaf, karena selama ini ibu tidak pernah membahagiakanmu, anakku” kata ibu Sampuraga dengan rasa haru

“Terima kasih, bu! Raga berjanji akan segera kembali jika Raga sudah berhasil. Doakan Raga, ya bu!“ Sampuraga meminta doa restu kepada ibunya.

“Ya, anakku! Siapkanlah bekal yang akan kamu bawa!” seru sang ibu. Setelah mendapat doa restu dari ibunya, Sampuraga pun segera mempersiapkan segala sesuatunya.

Keesokan harinya, Sampuraga berpamitan kepada ibunya. “Bu, Raga berangkat! jaga diri ibu baik-baik, jangan terlalu banyak bekerja keras!” saran Sampuraga kepada ibunya.

Berhati-hatilah di jalan! Jangan lupa cepat kembali jika sudah berhasil!” harap sang ibu.

Sebelum meninggalkan gubuk reotnya, Sampuraga mencium tangan sang Ibu yang sangat disayanginya itu. Suasana haru pun menyelimuti hati ibu dan anak yang akan berpisah itu. Tak terasa, air mata keluar dari kelopak mata sang Ibu. Sampuraga pun tidak bisa membendung air matanya. Ia kemudian merangkul ibunya, sang Ibu pun membalasnya dengan pelukan yang erat, lalu berkata: “Sudahlah, Anakku! Jika Tuhan menghendaki, kita akan bertemu lagi,” kata sang Ibu.

Setelah itu berangkatlah Sampuraga meninggalkan ibunya seorang diri. Berhari-hari sudah Sampuraga berjalan kaki menyusuri hutan belantara dan melawati beberapa perkampungan. Suatu hari, sampailah ia di kota Kerajaan Pidoli, Mandailing. Ia sangat terpesona melihat negeri itu. Penduduknya ramah-tamah, masing-masing mempunyai rumah dengan bangunan yang indah beratapkan ijuk. Sebuah istana berdiri megah di tengah-tengah keramaian kota. Candi yang terbuat dari batu bata terdapat di setiap sudut kota. Semua itu menandakan bahwa penduduk di negeri itu hidup makmur dan sejahtera.

Di kota itu, Sampuraga mencoba melamar pekerjaan. Lamaran pertamanya pun langsung diterima. Ia bekerja pada seorang pedagang yang kaya-raya. Sang Majikan sangat percaya kepadanya, karena ia sangat rajin bekerja dan jujur. Sudah beberapa kali sang Majikan menguji kejujuran Sampuraga, ternyata ia memang pemuda yang sangat jujur. Oleh karena itu, sang Majikan ingin memberinya modal untuk membuka usaha sendiri. Dalam waktu singkat, usaha dagang Sampuraga berkembang dengan pesat. Keuntungan yang diperolehnya ia tabung untuk menambah modalnya, sehingga usahanya semakin lama semakin maju. Tak lama kemudian, ia pun terkenal sebagai pengusaha muda yang kaya-raya.

Sang Majikan sangat senang melihat keberhasilan Sampuraga. Ia berkeinginan menikahkan Sampuraga dengan putrinya yang terkenal paling cantik di wilayah kerajaan Pidoli.

“Raga, engkau adalah anak yang baik dan rajin. Maukah engkau aku jadikan menantuku?” tanya sang Majikan.

“Dengan senang hati, Tuan! Hamba bersedia menikah dengan putri Tuan yang cantik jelita itu,” jawab Sampuraga.

Pernikahan mereka diselenggarakan secara besar-besaran sesuai adat Mandailing. Persiapan mulai dilakukan satu bulan sebelum acara tersebut diselenggarakan. Puluhan ekor kerbau dan kambing yang akan disembelih disediakan. Gordang Sambilan dan Gordang Boru yang terbaik juga telah dipersiapkan untuk menghibur para undangan.

Berita tentang pesta pernikahan yang meriah itu telah tersiar sampai ke pelosok-pelosok daerah. Seluruh warga telah mengetahui berita itu, termasuk ibu Sampuraga. Perempuan tua itu hampir tidak percaya jika anaknya akan menikah dengan seorang gadis bangsawan, putri seorang pedagang yang kaya-raya.

“Ah, tidak mungkin anakku akan menikah dengan putri bangsawan yang kaya, sedangkan ia adalah anak seorang janda yang miskin. Barangkali namanya saja yang sama,” demikian yang terlintas dalam pikiran janda tua itu.

Walaupun masih ada keraguan dalam hatinya, ibu tua itu ingin memastikan berita yang telah diterimanya. Setelah mempersiapkan bekal secukupnya, berangkatlah ia ke negeri Mandailing dengan berjalan kaki untuk menyaksikan pernikahan anak satu-satunya itu. Setibanya di wilayah kerajaan Pidoli, tampaklah sebuah keramaian dan terdengar pula suara Gordang Sambilan bertalu-talu. Dengan langkah terseok-seok, nenek tua itu mendekati keramaian. Alangkah terkejutnya, ketika ia melihat seorang pemuda yang sangat dikenalnya sedang duduk bersanding dengan seorang putri yang cantik jelita. Pemuda itu adalah Sampuraga, anak kandungnya sendiri.

Oleh karena rindu yang sangat mendalam, ia tidak bisa menahan diri. Tiba-tiba ia berteriak memanggil nama anaknya.

Sampuraga sangat terkejut mendengar suara yang sudah tidak asing di telinganya. “Ah, tidak mungkin itu suara ibu,” pikir Sampuraga sambil mencari-cari sumber suara itu di tengah-tengah keramaian. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba seorang nenek tua berlari mendekatinya.

“Sampuraga…Anakku! Ini aku ibumu, Nak!” seru nenek tua itu sambil mengulurkan kedua tangannya hendak memeluk Sampuraga.

Sampuraga yang sedang duduk bersanding dengan istrinya, bagai disambar petir. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi merah membara, seakan terbakar api. Ia sangat malu kepada para undangan yang hadir, karena nenek tua itu tiba-tiba mengakuinya sebagai anak.

“Hei, perempuan jelek! Enak saja kamu mengaku-ngaku sebagai ibuku. Aku tidak punya ibu jelek seperti kamu! Pergi dari sini! Jangan mengacaukan acaraku!”, hardik Sampuraga.

“Sampuragaaa…, Anakku! Aku ini ibumu yang telah melahirkan dan membesarkanmu. Kenapa kamu melupakan ibu? Ibu sudah lama sekali merindukanmu. Rangkullah Ibu, Nak!” Iba perempuan tua itu.

“Tidak! Kau bukan ibuku! Ibuku sudah lama meninggal dunia. Algojo! Usir nenek tua ini!” Perintah Sampuraga.

Hati Sampuraga benar-benar sudah tertutup. Ia tega sekali mengingkari dan mengusir ibu kandungnya sendiri. Semua undangan yang menyaksikan kejadian itu menjadi terharu. Namun, tak seorang pun yang berani menengahinya.

Perempuan tua yang malangitu kemudian diseret oleh dua orang sewaan Sampuraga untuk meninggalkan pesta itu. Dengan derai air mata, perempuan tua itu berdoa: “Ya, Tuhan! Jika benar pemuda itu adalah Sampuraga, berilah ia pelajaran! Ia telah mengingkari ibu kandungnya sendiri

Seketika itu juga, tiba-tiba langit diselimuti awan tebal dan hitam. Petir menyambar bersahut-sahutan. Tak lama kemudian, hujan deras pun turun diikuti suara gunturyang menggelegar seakan memecah gendang telinga. Seluruh penduduk yang hadir dalam pesta berlarian menyelamatkan diri, sementara ibu Sampuraga menghilang entah ke mana. Dalam waktu singkat, tempat penyelenggaraan pesta itu tenggelam seketika. Tak seorang pun penduduk yang selamat, termasuk Sampuraga dan istrinya.

Beberapa hari kemudian, tempat itu telah berubah menjadi kolam air yang sangat panas. Di sekitarnya terdapat beberapa batu kapur berukuran besar yang bentuknya menyerupai kerbau. Selain itu, juga terdapat dua unggukan tanah berpasir dan lumpur warna yang bentuknya menyerupai bahan makanan. Penduduk setempat menganggap bahwa semua itu adalah penjelmaan dari upacara pernikahan Sampuraga yang terkena kutukan. Oleh masyarakat setempat, tempat itu kemudian diberi nama “Kolam Sampuraga”. Hingga kini, tempat ini telah menjadi salah satu daerah pariwisata di daerah Mandailing yang ramai dikunjungi orang.

Cerita di atas termasuk cerita rakyat teladan yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan suri teladan dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada tiga pesan moral yang dapat diambil sebagai pelajaran dari cerita di atas, yaitu: sifat rajin bekerja, sifat jujur dan sifat durhaka terhadap orang tua. Ketiga sifat tersebut tercermin pada sifat dan perilaku Sampuraga.

Demikian cerita sampuraga yang telah di ambil dari berbagai sumber, sehingga legenda yang mulai terlupkan oleh segenap warga demi untuk melihat betapa hebatnya ganjaran yang didapa seorang anak bila durhaka kepada orang tua. Cerita yang bisa menarik objek wisata ini seolah terabaikan oleh pemerintah demi untuk tetap menjaga alkisah sampuraga dengan berbagai peninggalan sejarah yang melegenda secara nasional.

Disekolah juga sudah jarang terdengar bagaimana legenda dahulu yang bisa menggugah hati para siswa agar sampuraga adalah anak durhaka yang tidak perlu di tiru sebab pendidikan ahlak sangt minim, sehingga adapt istiadat Mandailing yang punya tutur sapa yang halus dan lembut kini mulai putar akibat dari berbagai kebudayaan barat yang sudah menjadi bahan tontonan di berbagai media televise.

Dari legenda juga adat istiadat yang bisa menuntun generasi penerus bangsa harus tetap dilestarikan dengan berbagai metode pendidikan sekolah untuk tidak mentiadakan adapt dan budaya Mandailing yang kini sudah terkikis oleh zaman.

6 COURSE PLANNING AND SYLLABUS DESIGN


A number of different levels of planning and development are involed in developing a course or set of instructional materials based on the aims and objectives that have been estabilished for a language program. In this chapter we will examine the following dimensions of course development:
  • Developing a course rationale
  • Describing entry and exit levels
  • Choosing course content
  • Sequencing course content
  • Planning the course content (syllabus and instructional bloks)
  • Preparing the scope and sequence plan
These processes do not necessarily occur in a linear order. Some may take place simultaneousy and many aspects of a course are subject to ongoing revision each time the course is taught. The types of decision making that we will examine in this chapter are also involved in developing instructional materials and many of the example discussed apply to both course planning and materials design.

The course rationale

A starting point in course development is a description of the course rationale. This is a brief written description of the reasons for the course and the nature of it. The course rationale seeks to answer the following questions:
Who is this course for ?
What is the course about ?
What kind of teaching and learning will take place in the course ?

The course rationale answers these questions by describing the beliefs, values and goal that underlie the course. It would normally be a two-or there paragraph statement that has been developed by those involved in planning and teaching a course and that servers to provide the justification for the type of teaching and learning that will take place in the course. It provides a succinct statement of the course philosophy for anyone who may need such information, including students, teachers, and potential clients. Developing a rationale also helps provide focus and direction to some of the deliberations involed in course planning. The rationale thus serves the purposes of:
  • Guiding the planning of the various components of the course
  • Emphasizing the kinds of teaching and learning the course should exemplity
  • Providing a check on the consistency of the various course components in terms of the course values and goals
(posner and Rudnitsky 1986)

The following is an example of a course rational :

This course is designed for working adults who wish to improve their communication skills in English in order to improve their employment prospects. It teaches the basic communication skills needed to communicate in a varienty of different work settings. The course seeks to enable participants to recognize their strength and needs in language learning and to give them the confidence to use English more effectively to achieve their own goals. It also seeks to develop the participants skills in independent learning outside of the classroom.

In order to develop a course rationale, the course planners need to give careful consideration to the goals of the course, the kind of teaching and learning they want the course to exemplity, the roles of teachers of  teacher and learners in the course, and the beliefs and principle the course will reflect.

Describing the entry and exit level

In order to plan a language course, it is necessary to know the level at which the program will start and the level learners may be expected to reach at the end of the course. Language programs and commercial materials typically distinguish between elementary, intermediate, and advanced levels, but these categories are too broad for the kind of detailed planning the program and materials development involves. For these purpose, more detailed descriptions are needed of students proficiency levels before they enter a program and targedted proficiency levels at the end of it. Information may be available on studenst’ entry level from their result on international proficiency tests such as TOEFL or IELTS. Or specially designed tests may be needed to determine the level of students’ language skills. Information from proficiency test will enable the target level of the program to be assessed and may require adjustment of the program’s objectives if they appear to be aimed at too high or too low a level.
An approach that has been widely used in language program planning is to identify different levels of performance or proficiency in the form of band levels or points on a proficiency scale. These describe what a student is able to do at different stages in a language program. An example of the use of proficiency descriptions in large-scale program planning was the approach used in the Australian Migrant Education On-Arrival Program.

In order to ensure that a language program is coherent and systematically moves learners along the path towards that level of proficiency they require, some overall perspective of the development path is required. This resulted … in the development of the Australian Second Languange Proficiency as nine (ASLPR). The ASLPR defines levels of second language proficiency as nine (potentially 12) points along the path from zero to native-like proficiency. The definitions provide detailed descriptions of language behavior on all four macroskill and allow the syllabus developer to perceive how a course at any levels fits into the total pattern of proficiency development. (Ingram 1982,66).

Similarly, in 1982 the American Council on the Teaching of Foreign Languages published proficiency guidelines in the from of “(a) series of descriptions of proficiency levels for speaking, listening, reading, writing, and culture in a foreign language. These guidelines represent a graduated sequence of proficiency levels for speaking, listening, reading, writing, and culture in a foreign language. These guidelines represent a graduated sequence of steps that can be used to structure a foreign language program” (Liskin-Gasparro 1984, 11). The ACTFL Proficiency Guidelines (see Appendix 1) have been widely promoted as a framework for organizing curriculum and as basis for assessment of foreign language ability, though they have also attracted controversy because they are not research-based (e.g., see Lowe 1986). Band descriptors such as those used in the IELTS examinations or the URCLES/RSA Certificate in Communicative Skills in English (Weir 1990, 149-179) can be similarly used as a basis for planning learner entry and exit levels in a program. (see Appendix 2 for an example of performance levels in writing, and Appendix 3 for band descriptors for “oral interaction”).

Choosing course content

The question of course content is probably the most basic issue in course design. Given that a course has to be developed to address a specific set of need and to cover a given set objectives, what will the content of the course look like? Decisions about course content reflect the planners’ assumptions about the nature of language, language use, and language learning, what the most essential elements or units of language are, and how these can be organized as an efficient basis for second language learning. For example, a writing course could potentially be planned around any of the following types of content:
  • Grammar (e.g., using the present tense in descriptions)
  • Functions (e.g., describing likes and dislikes)
  • Topics (e.g., wiriting about world issues)
  • Skills (e.g., developing topic sentences )
  • Processes (e.g., using prewriting strategies)
  • Texts (e.g., writing a business letter)

Similarly a speaking course could be organized around:
  • Functions (expressing opinions)
  • Interaction skills (opening and closing conversations, turn taking)
  • Topics (current affairs, business topics)

The choice of a particular approach to content selection will depend on subject-matter knowledge, the learners’ proficiency levels, current views on second language learning and teaching, conventional wisdom, and convenience. Information gathered during needs analysis contributes to the planning of course content, as do additional ideas from the following sources:
  • Available literature on the topic
  • Published materials on the topic
  • Review of similar courses offered elsewhere
  • Review of tests or exams in the area
  • Analysis of students’ problem
  • Consultation with teachers familiar with the topic
  • Consultation with specialists in the are

Rough initial ideas are noted down as a basis for planning and added to though group brainstorming. A list of possible topics, units, skills, and other units of course organization is then generated. One person suggests something that should go into the course, others add their ideas, and these are compared with other sources of information until cleaner ideas about the content of the course are agreed on. Throughout this process the statements of aims and objectives are continually referred to and both course content suggestions and the aims and objectives themselves are revised and fine tuned as the course content is planned. For example, a group of teachers listed the following initial ideas about what they would include in course on listening and speaking skills for a group of intermediate-level learners:
  • Asking questions
  • Opening and closing conversations
  • Expressing opinions
  • Dealing with misunderstandings
  • Describing experiences
  • Social talk
  • Telephone skills
  • Situation-specific language, such as at a bank
  • Describing daily routines
  • Recognizing sound contrasts
  • Using communication strategies

These topics then have to be carefully reviewed and refined and the following questions asked about them:

Are all the sugguested topics necessary?
Have any important topics been omitted?
Is there sufficient time to cover them ?
Has sufficient priority been given to the most important areas ?
Has enough emphasis been put in the different aspects of the areas identified?

Will the areas covered enable students to attain the learning outcomes?

Developing initial ideas for course content often takes place simultaneously with syllabus planning, because the content of a course will often depend on the type of syllabus framework that will be used as the basis for the course (discussed later in this chapter)

Determining the scope sequence

Decisions about course content also need to address the distribution of content throughout the course. This is known as planning the scope and sequence of the course. Scope is concerned with the breadth and depth of coverage of items in the course, that is, with the following questions:

What range of content will covered?
To what extent should each topic be studied?

For example, In relation to the course on listening and speaking skills referred to in the preceding section, one area of potential content identified was “describing experiences.” But how much will be included in relation to this topic? And should two, or six class periods be devoted to it? The swquencing of content in the course also needs to be determined. This involves deciding which content is needed early in the course and which provides a basis for things that will be learned later. Sequencing may be based on the following criteria.

Simple to complex

One of the commonest ways of sequencing material is by difficulty level. Content presented earlier is thought to be simpler than later items. This is typically seen in relation to grammar content, but any type of course content can be grade in terms of difficulty. For example, in a reading course reading text may be simplified at the beginning of the course and unsimplified at later levels. Or simple skills such as “literal comprehension” may be required early on, and more complex skill such as “inferencing” taught at a later stage.

Chonology

Content may be sequenced according to the order in which evensts occur in the real world. For example, in a writing course the organization might be based on the sequence writers are assumed to employ when composing: (1) brainstorming: (2) drafing: (3)revising: (4) editing. In a proficiency course, mally acquired: (1) listening: (2) speaking: (3) reading: (4) writing.

Need

Content may be sequenced according to when learners are more likely to need it outside of the classroom. For example, the rationale for the sequencing of content in a social survival curriculum is given as follos:

The topics and cross-topics in the curriculum are sequenced “in order of importance to students’ lives, ease of contextualization and their relationship to other topics and cross-topics”. The sequence is:
  1. Basic literacy skills
  2. Personal identification
  3. Money
  4. Shopping
  5. Time and dates
  6. Telephone
  7. Health emergencies
  8. Directions
  9. Transportation
  10. Housing
  11. Post office
  12. Banking/bills
  13. Social language
  14. Clarification

(Mrowicki 1986, xi)

Prerequisite learning

The sequence of content may reflect what is necessary at one point as a foundation for the next step in the learning process. For example, a certain set of grammar items may be taught as a prerequisite to paragraph writing. Or, in a reading course, word attack skills may be taught early on as a perquisite to reading unsimplified texts at later stages of the course.

Whole to part or part to whole

In some cases, material at the beginning of a course may focus on the overall structure or organization of a topic before considering the individual components that make it up. Alternatively, the course might focus on practicing the parts before the whole. For example, students might read short stories and react to them as whole texts before going on to consider what the elements are that constitute an effective short story. Or, students might study how to write paragraphs before going on to practice putting paragraphs together to make an essay.

Spiral sequencing
This approach involves the recycling of items to ensure that learners have repeated opportunities to learn them.

Planning the course structure

The next stage in course development involves mapping the course structure into a from and sequence that provide a suitable basis for teaching. Some of the premliminary planning involved will have occurred while ideas for course content were being generated. Two aspects of this process, however, require more detailed planning: selecting a syllabus framework and developing instructional bloks. These issue are closely related and some times inseparable but also involve different kinds of decisions.